Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis Opini, Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi, Fauzi As (Istimewa - garudajatim.com)

i

Penulis Opini, Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi, Fauzi As (Istimewa - garudajatim.com)

SUMENEP, Garuda Jatim – Jika menyebut nama orang dengan dugaan adalah racun berbungkus madu, maka menyebut nama dengan fakta adalah jamu bermerk susu.

Masalah terbesar kita hari ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan kebisingan.

Di tengah riuh itu, lahirlah satu jenis pelaku baru: bukan sekadar perampok jalanan, melainkan perampok persepsi.

Dulu, kita mengenal Edi Junaidi sebagai perampok nasabah bank. Polanya sederhana, nyaris primitif: mengintai korban, menunggu lengah, memecah kaca kendaraan, lalu mengambil uang. Tertangkap. Dilumpuhkan. Dicatat dalam berita kriminal lalu Selesai.

Itu perampok yang setidaknya jujur pada profesinya.

Tidak pura-pura suci.

Tidak bersembunyi di balik diksi mulia.

Dan Tidak menyamar sebagai pembela kebenaran.

Kini, kita berhadapan dengan jenis yang lebih modern.

Ia tidak lagi memecah kaca, ia memecah logika publik.

Ia tidak merampas uang dari kendaraan, namun ia merampas ketenangan pikiran agar orang rela mengeluarkan uangnya sendiri.

Dan semua itu dilakukan dengan satu senjata utama: narasi yang dipoles seolah fakta.

Salah satu trik paling klasik adalah menjual sesuatu dengan label “baru.”

Kabar baru.

Opini baru.

Fakta baru.

Padahal ketika dibedah secara jujur, yang disajikan kerap kali hanyalah daur ulang dari bangkai informasi: data lama, potongan cerita, serpihan isu usang yang sudah lama berserakan di mesin pencari seperti sampah digital.

Dikumpulkan.

Dipoles.

Dikemas ulang.

Lalu dilempar ke publik seolah-olah itu penemuan segar yang mengguncang.

Lebih berbahaya lagi ketika isu yang dimainkan menyentuh sektor sensitif seperti industri rokok rakyat Madura: pita cukai, distribusi, harga pasar, hingga berbagai sisi gelap yang mudah memancing prasangka.

Di sinilah akal sehat publik benar-benar diuji.

Sebab ada yang dengan ringan menulis soal pita cukai, nama disebut, angka dipajang, harga dikutip, perbandingan dibangun, namun melesetnya bukan sekadar sedikit.

Bukan salah hitung biasa.

Tapi salah kelas.

Bukan selisih tipis.

Melainkan bisa puluhan kali lipat.

Ini bukan sekadar kekeliruan teknis.

Ini seperti membahas samudra tanpa tahu bedanya air asin dan air tawar.

Namun ironisnya, dengan rasa percaya diri yang nyaris absolut, narasi seperti itu tetap diproduksi dan dilempar ke ruang publik hampir setiap hari.

Seolah-olah frekuensi bisa menggantikan validitas.

Seolah pengulangan bisa mengubah kesalahan menjadi kebenaran.

Padahal yang terjadi justru sebaliknya,

semakin sering diulang, semakin terang ketidaktahuannya.

Lebih jauh lagi, pola itu makin terlihat jelas, setiap hari muncul tulisan yang mengaitkan rokok ilegal dengan tudingan besar, dibungkus gaya investigatif, dihiasi nama-nama, dan disusun seolah seluruh kebenaran sudah final.

Padahal publik yang masih memiliki nalar sederhana pasti akan bertanya:

Mana datanya?

Mana pembuktiannya?

Mana keberimbangannya?

Atau jangan-jangan, ini memang bukan soal membuka kebenaran, melainkan menciptakan tekanan?

Karena pola ini terlalu mirip dengan metode lama yaitu ;

cari target, bangun narasi, ulang terus, lalu tunggu efek.

Kalau dulu menunggu korban lengah di parkiran,

kini menunggu korban panik di ruang publik.

Perbedaannya hanya satu:

yang lama memakai linggis,

yang baru memakai keyboard.

Dan ironi itu menjadi lebih tajam ketika kita mengingat fakta sederhana: sebagian dari mereka yang hari ini paling lantang mencium bau busuk tembakau, justru lahir dari lingkungan yang sama.

Dari tanah yang sama.

Dari kultur yang sama.

Dari keluarga yang mungkin pernah menggantungkan hidup pada daun tembakau itu sendiri.

Keringat ayahnya mungkin pernah jatuh di ladang.

Tangan ibunya mungkin pernah lengket oleh daun tembakau yang dijemur di bawah matahari.

Namun ketika kuasa narasi sudah berada di tangan, yang muncul bukan penghormatan terhadap akar, melainkan penghakiman.

Seolah lupa dari mana berasal.

Seolah lupa bahwa industri yang dibicarakan bukan sekadar statistik ekonomi, tetapi denyut hidup ribuan keluarga.

Di titik inilah publik perlu diingatkan secara tegas:

Jangan ada Edi Junaidi yang lain.

Cukup satu Edi Junaidi yang tercatat sebagai perampok nasabah bank.

Yang kesalahannya nyata.

Yang modusnya jelas.

Yang tidak bersembunyi di balik topeng moralitas.

Karena jika nama itu mulai menjelma dalam bentuk baru, lebih rapi, lebih bersih, lebih intelektual, tetapi lebih manipulatif maka kita sedang menyaksikan evolusi kejahatan yang jauh lebih berbahaya.

Seseorang bisa saja lahir di hari Jumat, hari yang diyakini penuh berkah.

Namun hari lahir tidak pernah menjamin isi kepala.

Edi Junaidi bisa lahir di hari terbaik,

tetapi tetap memilih jalan terburuk.

Karena yang menentukan bukan tanggal lahir,

melainkan cara seseorang menggunakan kuasa.

Dan menulis, sekali lagi, adalah kuasa.

Ia bisa menjadi cahaya.

Ia bisa menjadi alat pendidikan.

Ia bisa menjadi pembela kebenaran.

Namun di tangan yang salah,

ia juga bisa berubah menjadi alat paling halus untuk merampas uang, menciptakan tekanan, dan memanipulasi persepsi.

Maka bagi siapa pun yang hari ini gemar menjual “kabar baru” dari bahan usang, memainkan angka tanpa dasar, membangun tudingan tanpa keseimbangan, serta mengemas opini sebagai alat tekanan, ingat satu hal:

Publik mungkin bisa dibingungkan hari ini,

tetapi tidak untuk selamanya.

Dan di tanah seperti Madura, ada satu hal yang sulit dihapus:

Yaitu Ingatan.

Karena masyarakat mungkin diam,

tetapi tidak selalu lupa.

Maka jika ada yang terus memaksakan model perampokan gaya baru dengan narasi, tekanan, dan permainan opini Jangan terkejut bila suatu saat nanti,

bukan lagi tulisannya yang dibaca,

melainkan namanya yang dibuka.

Ditelanjangi oleh fakta.

Dikembalikan ke asalnya.

Dicatat bukan sebagai pembawa kabar,

tetapi sebagai seseorang yang pernah mencoba merampok dengan cara paling halus: merampok lewat kata-kata.

Dan sejarah, seperti biasa, tidak membutuhkan banyak kalimat untuk menjatuhkan vonis.

Cukup satu:

Yang satu memecah kaca.

Yang satu memecah kebenaran.

Keduanya tetap perampok.

Dan kecanggihan teknologi hari ini telah mencatat dengan sangat sempurna jejak seorang bernama Edi Junaidi.

(Episode I)

Penulis : Fauzi As

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BGN Bekukan 10 SPPG di Sumenep, Pelanggaran Sanitasi dan Administrasi Picu Penghentian Operasional
Sekda Sumenep di Persimpangan Strategis: Tiga Nama, Satu Kendali Birokrasi
Hakim Tegaskan Bukan Pengeroyokan: Tiga Terdakwa Kasus ODGJ Sapudi Sumenep Bebas Murni, Satu Dihukum 5 Bulan
Klaim Patuh SOP Dipertanyakan, SPPG Saronggi Sumenep Diterpa Temuan Makanan Busuk dan Sertifikasi Tak Lengkap
Diduga Sajikan Ayam Setengah Matang, Menu MBG SPPG Pakamban Laok 2 Sumenep Picu Diare Massal Siswa
Kades Meddelan Sumenep Ancam Laporkan Ketua BUMDes Usai Disudutkan Soal Dana Proyek Kambing
Jawaban Dua Kata Kepala SPPG Legung Barat Picu Tanda Tanya, Keluhan Guru Tak Dijawab Substansial
SPPG Rubaru Lepas Tangan soal Sertifikasi Dapur Mitra, Pernyataan Kepala SPPG Picu Tanda Tanya Publik
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:30 WIB

Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Rabu, 11 Maret 2026 - 16:44 WIB

BGN Bekukan 10 SPPG di Sumenep, Pelanggaran Sanitasi dan Administrasi Picu Penghentian Operasional

Kamis, 19 Februari 2026 - 12:39 WIB

Sekda Sumenep di Persimpangan Strategis: Tiga Nama, Satu Kendali Birokrasi

Senin, 2 Februari 2026 - 20:32 WIB

Hakim Tegaskan Bukan Pengeroyokan: Tiga Terdakwa Kasus ODGJ Sapudi Sumenep Bebas Murni, Satu Dihukum 5 Bulan

Jumat, 23 Januari 2026 - 13:25 WIB

Klaim Patuh SOP Dipertanyakan, SPPG Saronggi Sumenep Diterpa Temuan Makanan Busuk dan Sertifikasi Tak Lengkap

Berita Terbaru

Penulis Opini, Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi, Fauzi As (Istimewa - garudajatim.com)

Opini

Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:30 WIB