Klaim Patuh SOP Dipertanyakan, SPPG Saronggi Sumenep Diterpa Temuan Makanan Busuk dan Sertifikasi Tak Lengkap

Jumat, 23 Januari 2026 - 13:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi SPPG Saronggi, Sumenep diduga bermasalah tentang SOP (Ris - garudajatim.com)

i

Foto ilustrasi SPPG Saronggi, Sumenep diduga bermasalah tentang SOP (Ris - garudajatim.com)

SUMENEP, Garuda Jatim – Klaim pelaksanaan program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Saronggi, Sumenep, Jawa Timur, yang disebut berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) kini berada di bawah sorotan tajam.

Di balik narasi pelayanan optimal yang disampaikan pengelola, fakta di lapangan justru mengungkap serangkaian persoalan serius yang memunculkan tanda tanya besar atas mutu, keamanan, dan legalitas layanan pemenuhan gizi tersebut.

SPPG Saronggi yang berada di bawah naungan Yayasan Alif Batu Putih dilaporkan menyalurkan menu makanan dengan kondisi memprihatinkan. Sejumlah wali murid dan pihak sekolah menemukan buah nanas dalam keadaan busuk, nugget berbau tidak sedap, hingga menu yang secara terang-terangan ditolak oleh siswa penerima manfaat karena dianggap tidak layak konsumsi.

Temuan tersebut jelas bertolak belakang dengan prinsip dasar SOP layanan pemenuhan gizi anak sekolah yang menempatkan kualitas bahan baku, kesegaran makanan, aroma, kebersihan, serta keamanan pangan sebagai syarat mutlak dan tidak bisa ditawar.

“Kalau benar dijalankan sesuai SOP, tidak mungkin buah busuk masih dibagikan. Nugget yang berbau itu nyata kami temukan di lapangan,” ujar Syamsul Arifin, salah satu wali murid. Jumat (23/1/26).

Penolakan menu oleh siswa pun menjadi sinyal kuat adanya persoalan serius dalam pengolahan dan pengawasan mutu makanan. Bagi program yang menyasar anak-anak sebagai kelompok rentan, kondisi tersebut bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan potensi risiko kesehatan yang seharusnya mendapat perhatian serius.

Tak hanya soal kualitas menu, aspek legalitas dan kelengkapan sertifikasi SPPG Saronggi juga dipertanyakan. Hingga kini, pengelola disebut belum mengantongi atau setidaknya belum membuka secara transparan dokumen sertifikasi kelayakan yang wajib dimiliki penyelenggara layanan pemenuhan gizi, mulai dari standar higiene sanitasi hingga sistem pengawasan keamanan pangan.

Ironisnya, upaya konfirmasi yang dilakukan awak media tidak membuahkan hasil. Kepala SPPG Saronggi memilih bungkam dan tidak memberikan keterangan, sikap yang dinilai kontras dengan pernyataan yang justru disampaikan kepada media lain. Dalam pemberitaan tersebut, SPPG Saronggi diklaim telah beroperasi sesuai SOP dan mendapatkan respons positif dari penerima manfaat.

Pernyataan itu kemudian dimuat oleh Media Jatim, yang menyebut program SPPG Saronggi berjalan baik dan mendapat apresiasi. Namun klaim tersebut dinilai tidak merepresentasikan kondisi riil di lapangan, karena mengabaikan fakta temuan makanan bermasalah serta keluhan nyata dari siswa dan wali murid.

Publik pun mempertanyakan dasar penilaian respons positif yang disampaikan. Apakah klaim tersebut lahir dari evaluasi menyeluruh dan verifikasi lapangan yang independen, atau sekadar bersumber dari keterangan sepihak pengelola tanpa pengujian fakta secara objektif.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola SPPG Saronggi belum memaparkan secara terbuka dokumen pendukung terkait kelengkapan sertifikasi, standar higiene, mekanisme pengawasan mutu menu harian, serta sistem penanganan keluhan. Padahal, transparansi merupakan prasyarat utama dalam program publik yang menyangkut keselamatan dan kesehatan anak sekolah.

Jika makanan busuk, berbau, dan ditolak siswa masih diklaim sebagai bagian dari layanan sesuai SOP, maka yang patut dipertanyakan bukan kritik publik, melainkan validitas SOP yang dijadikan tameng serta keseriusan pengawasan dalam pelaksanaannya.

Sikap tertutup pengelola dan ketidaksiapan memberikan klarifikasi justru memperkuat dugaan adanya persoalan mendasar dalam penyelenggaraan SPPG Saronggi, program yang sejatinya hadir untuk menjamin pemenuhan gizi sehat anak sekolah, bukan menambah daftar polemik dan kekhawatiran di tengah masyarakat.(Ris/Di)

Penulis : Ris

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI
Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme
Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal
Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival
Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026
PKKMB UPI Sumenep Tantang 530 Maba Jadi Generasi Pencipta Karya
Lakpesdam dan LPBH NU Desak THM Bermasalah Ditutup Permanen, Kapolresta Sumenep: Jika Terbukti Melanggar, Tindak Tegas
Karapan Sapi Sumenep 2026 Siap Dimulai, Delapan Korwil Berebut Tiket ke Piala Presiden
Berita ini 87 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:45 WIB

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 14:10 WIB

Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme

Jumat, 28 Agustus 2026 - 18:27 WIB

Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:48 WIB

Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026

Berita Terbaru