SUMENEP, Garuda Jatim — Upaya pengendalian penyakit tidak menular (PTM) terus diperkuat secara sistematis. Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep, Jawa Timur, menggelar Evaluasi Program PTM Tahun 2026 lebih awal dari agenda tahunan, sebagai langkah percepatan dalam menjawab tantangan deteksi dini yang masih menjadi pekerjaan besar layanan kesehatan daerah.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel D’Bagraf Sumenep tersebut diikuti 62 peserta, terdiri dari 31 kepala puskesmas dan 31 penanggung jawab program PTM.
Seluruh puskesmas, baik di wilayah daratan maupun kepulauan termasuk hasil pemekaran turut dilibatkan sebagai bagian dari penguatan layanan berbasis wilayah.
Evaluasi ini tidak sekadar menjadi forum administratif, melainkan momentum strategis untuk mengukur efektivitas program sekaligus merumuskan pendekatan baru dalam menekan angka kasus PTM. Fokus utama diarahkan pada optimalisasi deteksi dini, yang selama ini dinilai masih belum maksimal menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Sumenep, H. Achmad Syamsuri, mengatakan bahwa evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek pelaporan, implementasi program, hingga inovasi layanan di tingkat puskesmas.
“Evaluasi ini kami lakukan untuk memastikan seluruh program PTM berjalan sesuai target, bukan hanya dari sisi administrasi, tetapi juga dampaknya di masyarakat. Kita ingin layanan benar-benar dirasakan manfaatnya,” ujarnya. Rabu (22/4/26)
Menurutnya, percepatan evaluasi tahun ini juga berkaitan dengan penguatan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang mulai digencarkan sejak 2025. Program tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam mendeteksi faktor risiko PTM lebih dini, namun masih membutuhkan dorongan di tingkat implementasi.
“Kami ingin CKG ini lebih masif. Tantangan utamanya adalah bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan sejak dini, sebelum muncul gejala,” katanya.
Dalam forum evaluasi tersebut, sejumlah inovasi layanan dari puskesmas turut menjadi perhatian. Salah satu yang dinilai efektif adalah pendekatan jemput bola melalui skrining kesehatan di ruang publik, termasuk di tempat ibadah pada waktu subuh.
“Ada puskesmas yang melakukan skrining di masjid saat subuh. Ini langkah yang cerdas karena menyasar masyarakat di momen yang tepat, ketika mereka berkumpul,” tambahnya.
Layanan skrining yang diberikan meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, pengukuran indeks massa tubuh, hingga konsultasi gizi dan kesehatan lingkungan secara gratis. Pendekatan ini dinilai mampu menembus keterbatasan akses sekaligus membangun kedekatan antara tenaga kesehatan dan masyarakat.
Syamsuri menegaskan, deteksi dini merupakan kunci utama dalam pengendalian PTM. Dengan mengetahui kondisi kesehatan sejak awal, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk melakukan intervensi dan mencegah penyakit berkembang ke tahap yang lebih serius.
“Kalau diketahui lebih cepat, penanganannya juga lebih cepat. Ini penting untuk menekan risiko komplikasi yang seringkali berujung pada beban biaya kesehatan yang tinggi,” tegasnya.
Tak hanya menyasar masyarakat umum, Dinkes P2KB Sumenep juga memperluas skrining kesehatan ke kalangan tenaga kesehatan sendiri.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk keteladanan dalam menerapkan pola hidup sehat sekaligus memastikan kesiapan SDM kesehatan dalam memberikan layanan yang optimal.
Dengan percepatan evaluasi dan dorongan inovasi berbasis lapangan, Dinkes P2KB Sumenep berharap program pengendalian PTM tidak lagi berjalan normatif, melainkan lebih adaptif, responsif, dan berdampak nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat di seluruh wilayah, termasuk daerah kepulauan yang selama ini memiliki tantangan akses tersendiri.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











