SUMENEP, Garuda Jatim — Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga denyut budaya lokal melalui gelaran Festival Jeren Serek yang masuk dalam rangkaian Calendar of Event Sumenep 2026.
Agenda budaya tahunan itu berlangsung meriah di halaman Kantor KONI, GOR A. Yani Pangligur, Minggu (10/05/26), dan dipadati masyarakat dari berbagai wilayah.
Festival yang menampilkan atraksi budaya khas Madura tersebut resmi dibuka Wakil Bupati Sumenep KH Imam Hasyim. Hadir dalam kegiatan itu Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep Agus Dwi Saputra, Kepala Disbudporapar Sumenep Faruk Hanafi, dan unsur Forkopimda, pimpinan OPD, camat, hingga jajaran BUMN serta BUMD.
Suara saronen yang menggema sejak pagi menjadi penanda dimulainya festival budaya yang selama ini dikenal sebagai salah satu identitas tradisional masyarakat Sumenep. Warga tampak antusias menyaksikan atraksi Jeren Serek yang memadukan ketangkasan kuda dengan kepiawaian pawang dalam irama musik tradisional Madura.
Kepala Disbudporapar Sumenep Faruk Hanafi mengatakan, Festival Jeren Serek bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan bagian dari strategi pemerintah daerah dalam memperkuat pelestarian budaya sekaligus menggerakkan sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.
“Festival Jeren Serek bukan hanya hiburan masyarakat, tetapi juga bagian dari pelestarian budaya dan identitas daerah,” kata Faruk Hanafi di sela kegiatan.
Ia menegaskan, pihaknya terus mendorong lahirnya agenda budaya yang memiliki daya tarik wisata sekaligus memberi ruang bagi tradisi lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Melalui Calendar of Event 2026, kami ingin memperkenalkan kekayaan budaya Sumenep agar semakin dikenal luas,” tegasnya.
Faruk menyatakan, Jeren Serek merupakan warisan budaya leluhur yang tidak boleh hilang ditelan modernisasi. Karena itu, pemerintah daerah terus berupaya menghadirkan ruang ekspresi budaya yang melibatkan generasi muda.
“Tradisi ini merupakan warisan budaya leluhur yang harus terus dijaga keberadaannya,” lanjutnya.
Ia berharap festival budaya tersebut tidak hanya menjadi tontonan tahunan, melainkan juga sarana edukasi budaya bagi masyarakat, terutama generasi muda agar tetap memiliki kedekatan dengan tradisi daerahnya sendiri.
“Kami ingin generasi muda tidak melupakan budaya daerahnya sendiri dan ikut melestarikannya,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Sumenep KH Imam Hasyim membuka sambutannya dengan pantun khas Madura yang langsung disambut tepuk tangan meriah masyarakat.
“Pagi hari minum jamu beras kencur, sore hari tidur di bawah pohon randu. Festival meriah penuh rasa syukur, budaya Jeren Serek tetap lestari selalu,” ucapnya.
Dalam sambutannya, KH Imam Hasyim menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Festival Jeren Serek sebagai bagian dari upaya menjaga eksistensi budaya lokal di tengah arus globalisasi.
“Alhamdulillah pada pagi hari ini Festival Jeren Serek dapat terlaksana dengan baik sebagai rangkaian Calendar of Event Sumenep 2026. Kami atas nama pemerintah daerah menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mempersiapkan kegiatan ini,” paparnya.
Menurutnya, Jeren Serek bukan sekadar pertunjukan rakyat, tetapi telah menjadi identitas budaya khas Kabupaten Sumenep yang memiliki nilai historis dan filosofi kuat dalam kehidupan masyarakat Madura.
“Jeren Serek adalah pertunjukan budaya tradisional khas Sumenep yang memadukan kuda dengan pawangnya diiringi musik saronen. Ini adalah ikon budaya daerah yang wajib kita lestarikan bersama,” sambungnya.
Wabup juga mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, agar tidak sekadar menjadi penonton budaya sendiri, tetapi ikut terlibat menjaga keberlangsungan tradisi daerah.
“Saya mengajak generasi muda dan seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga serta melestarikan budaya Jeren Serek agar tetap dikenal dan diwariskan kepada anak cucu kita nanti,” ucapnya.
Lebih jauh, Pemerintah Kabupaten Sumenep disebut akan terus memperluas promosi budaya Jeren Serek hingga ke tingkat nasional melalui berbagai platform media dan agenda budaya lintas daerah.
“Jeren Serek tidak kalah menarik dengan budaya lain seperti sapi sonok. Tinggal bagaimana kita mempromosikannya secara lebih luas, termasuk melalui media sosial agar semakin dikenal masyarakat luar daerah,” pungkas KH Imam Hasyim.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











