SUMENEP, Garuda Jatim — Rumah Sakit Umum Daerah RSUD dr. H. Moh. Anwar (RSUDMA) Sumenep, Jawa Timur, menegaskan bahwa layanan gizi bagi pasien rawat inap tidak dijalankan dengan pendekatan seragam.
Setiap pasien mendapatkan asupan nutrisi yang dirancang secara personal, disesuaikan dengan kondisi medis, kebutuhan tubuh, dan tahap pemulihan yang sedang dijalani.
Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi rumah sakit dalam memastikan layanan kesehatan tidak berhenti pada tindakan medis semata, tetapi juga ditopang oleh pemenuhan gizi yang tepat sasaran.
Pasalnya, kondisi kesehatan pasien sangat beragam, mulai dari perbedaan tingkat kesadaran, usia, berat badan, hingga jenis penyakit atau gangguan patologis yang diderita.
Direktur RSUDMA Sumenep, dr. Erliyati, menyatakan bahwa penentuan kebutuhan gizi sepenuhnya berada di tangan tenaga ahli gizi profesional. Penilaian dilakukan melalui analisis medis yang terukur dan berbasis data klinis pasien.
“Tidak semua pasien bisa diperlakukan sama. Ahli gizi akan menentukan apakah pasien cukup dengan gizi standar rumah sakit atau membutuhkan gizi khusus sesuai kondisi tubuh dan penyakitnya,” ujar dr. Erliyati. Kamis (26/2/26)
Menurutnya, perbedaan kondisi pasien mulai dari pasien tidak sadar hingga pasien yang masih aktif berkomunikasi menjadi faktor penting dalam penyusunan menu makanan. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa asupan nutrisi benar-benar mendukung proses penyembuhan, bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan.
Selain itu, RSUDMA Sumenep juga menjalankan program visit gizi sebagai bagian dari pelayanan rawat inap. Dalam program ini, petugas gizi melakukan kunjungan langsung ke ruang perawatan untuk berinteraksi dengan pasien maupun keluarga.
Informasi mengenai preferensi makanan dikumpulkan dan kemudian diselaraskan dengan kebutuhan kalori serta zat gizi yang telah ditetapkan secara medis.
Dr. Erliyati menjelaskan, apabila dokter penanggung jawab pasien merekomendasikan pola diet tertentu seperti diet diabetes atau diet khusus penyakit lainnya, maka ahli gizi akan menyesuaikan asupan nutrisi berdasarkan berat badan, kondisi klinis, serta respons tubuh pasien terhadap perawatan.
“Seluruh proses pemberian gizi dilakukan sesuai standar pelayanan gizi rumah sakit dan selalu mengacu pada kondisi patologis masing-masing pasien,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa layanan gizi rumah sakit memiliki karakter berbeda dengan program gizi di luar layanan medis, seperti penanganan balita kurang gizi atau program penurunan berat badan.
Di rumah sakit, pemberian gizi merupakan bagian integral dari terapi medis yang harus selaras dengan diagnosis dan rencana perawatan.
Dalam aspek pengelolaan, layanan gizi dikoordinasikan oleh kepala bidang terkait bersama unit operasional. Selama sistem aplikasi pendukung tidak mengalami gangguan, pelayanan gizi rawat inap berjalan normal.
“Jika muncul komplain, baik dugaan penyalahgunaan maupun persoalan lainnya, akan dikonfirmasi langsung kepada saya. Semua akan dijawab berdasarkan fakta, dan pihak terkait juga diberi kesempatan untuk menjelaskan,” ungkapnya.
Saat ini, layanan gizi rawat inap RSUDMA Sumenep melayani ratusan pasien setiap hari. Rumah sakit tersebut mengelola 233 tempat tidur, dengan anggaran penyediaan makanan pasien mencapai sekitar Rp2,3 miliar per tahun. Menu yang disediakan meliputi makanan kering dan basah yang diolah secara khusus sesuai kebutuhan medis pasien.
Selain makanan utama, layanan gizi juga mencakup penyediaan susu dan nutrisi tambahan, mengingat pasien berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga lanjut usia.
“Dengan sistem ini, kami memastikan setiap pasien menerima asupan gizi yang tepat, terukur, dan mendukung proses penyembuhan secara optimal,” pungkas dr. Erliyati.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











