Mahasiswa Kepung Diskop Sumenep, Kebijakan Batik Diduga Sarat Kepentingan

Rabu, 11 Februari 2026 - 21:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat saat demo DKUPP Sumenep tentang seragam ASN (Za - garudajatim.com)

i

Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat saat demo DKUPP Sumenep tentang seragam ASN (Za - garudajatim.com)

SUMENEP, Garuda Jatim – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat (Gempar) Madura mengepung Kantor Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKM Perindag) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Aksi tersebut dipicu dugaan penyimpangan kebijakan pemerintah daerah terkait pengelolaan dan promosi batik khas Sumenep.

Mahasiswa menilai Diskop UKM Perindag gagal melindungi perajin batik lokal. Alih-alih memperkuat produsen asli, kebijakan yang dijalankan justru dianggap membuka ruang bagi kepentingan bisnis tertentu yang berpotensi mengaburkan identitas batik Sumenep.

Koordinator aksi, Moh Asmuni, menyebut pola sosialisasi UMKM yang dilakukan dinas tidak tepat sasaran. Kegiatan tersebut dinilai tidak melibatkan perajin batik sebagai pelaku utama, sehingga menimbulkan kecurigaan adanya penggiringan kebijakan.

“Sosialisasi UMKM tapi perajin batik tidak diundang. Ini bukan kesalahan teknis, ini arah kebijakan yang patut dipertanyakan,” ujar Asmuni. Rabu (11/2/26)

Perbup Dinilai Menggeser Makna Batik

Gempar Madura juga menyoroti Peraturan Bupati Nomor 67 Tahun 2025 yang dinilai berpotensi menggeser makna batik Sumenep. Regulasi tersebut dianggap membuka peluang tekstil umum diposisikan sebagai representasi budaya lokal.

Menurutnya, kebijakan itu bukan sekadar kelalaian regulatif, tetapi dapat menjadi pintu masuk kepentingan ekonomi yang merugikan perajin batik lokal.

“Kalau semua tekstil bisa disebut batik Sumenep, lalu di mana posisi perajin asli?” tegasnya Asmuni.

Dugaan Permainan Bisnis

Mahasiswa menduga terdapat permainan dalam pengadaan dan distribusi batik. Indikasi keterlibatan tengkulak yang terhubung dengan oknum dinas disebut semakin kuat, sementara perajin lokal justru tersingkir dari rantai distribusi.

Situasi tersebut dinilai berbahaya karena tidak hanya merusak ekosistem UMKM, tetapi juga mencoreng kredibilitas kebijakan pemerintah daerah.

Data Sosialisasi Dinilai Tertutup

Sorotan lain diarahkan pada minimnya transparansi data peserta sosialisasi. Saat publik meminta daftar pelaku usaha yang dilibatkan, dinas disebut mensyaratkan prosedur administratif formal.

Bagi mahasiswa, sikap tersebut mencerminkan birokrasi yang defensif dan tertutup terhadap kontrol publik.

“Publik minta data, bukan prosedur berlapis. Ini justru memperkuat dugaan ada yang ditutup-tutupi,” lanjut Asmuni.

Sementara itu, Kepala Diskop UKM Perindag Sumenep, Moh Ramli, membantah tudingan mahasiswa. Ia menegaskan seluruh kegiatan telah dilakukan sesuai prosedur dan melibatkan perwakilan UMKM.

“Sosialisasi sudah sesuai prosedur. Data peserta ada di masing-masing bidang,” jelasnya secara singkat.

Meski demikian, Gempar Madura menegaskan akan terus mengawal persoalan ini. Mereka menuntut audit terbuka, transparansi data penerima manfaat, serta klarifikasi resmi terkait dugaan masuknya batik luar daerah dalam kebijakan batik Sumenep.(Za/Di)

Penulis : Za

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI
Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme
Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal
Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival
Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026
PKKMB UPI Sumenep Tantang 530 Maba Jadi Generasi Pencipta Karya
Lakpesdam dan LPBH NU Desak THM Bermasalah Ditutup Permanen, Kapolresta Sumenep: Jika Terbukti Melanggar, Tindak Tegas
Karapan Sapi Sumenep 2026 Siap Dimulai, Delapan Korwil Berebut Tiket ke Piala Presiden
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:45 WIB

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 14:10 WIB

Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme

Jumat, 28 Agustus 2026 - 18:27 WIB

Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:48 WIB

Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026

Berita Terbaru