SUMENEP, Garuda Jatim – Peringatan puncak Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, ditandai dengan aksi nyata pembersihan lingkungan dan penanaman pohon di kawasan Jalan Lingkar Timur.
Kegiatan ini menjadi penegasan bahwa isu sampah tidak lagi diperlakukan sebatas agenda simbolik, melainkan persoalan serius yang harus ditangani secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan yang digagas Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumenep (DLH) tersebut, pemerintah daerah memadukan aksi bersih-bersih jalan dan saluran air dengan penanaman pohon sebagai langkah simultan menjaga kebersihan sekaligus memperkuat kualitas lingkungan perkotaan.
Aksi lingkungan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya gerakan pengurangan sampah berbasis aksi nyata di daerah, bukan sekadar kampanye seremonial.
Kegiatan HPSN 2026 di Sumenep melibatkan beragam elemen masyarakat, mulai dari Dharma Wanita DLH, komunitas peduli lingkungan, komunitas jurnalis, Pemuda Ansor Sumenep, Pemerintah Desa Pabian, hingga unsur Forkopimcam. Kolaborasi lintas sektor ini dinilai penting untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Kepala Bidang Persampahan DLH Sumenep, Deddy Surya, mengatakan pentingnya perubahan pola pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.
Menurutnya, volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir terus meningkat jika tidak diimbangi dengan pengurangan dari hulu.
“Selama masyarakat masih mengandalkan sistem buang-angkut-buang, persoalan sampah tidak akan selesai. HPSN ini kami jadikan momentum untuk mendorong pengurangan sampah dari sumbernya, terutama melalui pemilahan dan pengelolaan mandiri di lingkungan masing-masing,” ujarnya. Sabtu (21/2/26)
Sementara itu, Kepala DLH Kabupaten Sumenep, Anwar Syahroni Yusuf, menegaskan bahwa peringatan HPSN harus menjadi momentum perubahan perilaku masyarakat terhadap sampah.
“Masalah sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan petugas kebersihan. Kesadaran masyarakat untuk mengurangi dan memilah sampah dari sumbernya menjadi kunci utama,” tegasnya.
Ia menambahkan, penanaman pohon yang dilakukan bersamaan dengan aksi bersih lingkungan merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas hidup masyarakat.
“Lingkungan yang bersih harus ditopang dengan ruang hijau yang memadai. Ini bukan sekadar estetika, tapi soal kesehatan dan keberlanjutan,” tambahnya.
“Pembersihan hari ini sekaligus menjadi pesan bahwa ruang publik bukan tempat sampah. Kesadaran kolektif harus dibangun, karena dampak sampah bukan hanya soal kotor, tetapi juga banjir dan pencemaran lingkungan,” paparnya.
Ia berharap, peringatan HPSN 2026 dapat menjadi pemicu lahirnya gerakan berkelanjutan, tidak hanya pada momentum tertentu, tetapi menjadi budaya sehari-hari masyarakat.
“Dengan sinergi antara pemerintah, komunitas, dan warga, upaya menuju Sumenep yang bersih, sehat, dan asri diharapkan semakin nyata,” tukasnya. (Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











