SUMENEP, Garuda Jatim – Di tengah derasnya arus gawai dan media digital yang kian mendominasi kehidupan anak-anak, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, justru memilih cara berbeda untuk menjaga budaya membaca.
Melalui program Perpustakaan Keliling (Perpusling), buku-buku diantar langsung ke sekolah, madrasah, hingga pondok pesantren, menjadikan literasi hadir di tengah aktivitas belajar para pelajar.
Sepanjang tahun 2026, layanan ini hampir tidak pernah berhenti beroperasi. Setiap hari, armada Perpusling bergerak dari satu sekolah ke sekolah lainnya berdasarkan permohonan resmi yang diajukan lembaga pendidikan.
Bahkan, tingginya antusiasme membuat sejumlah sekolah harus rela masuk daftar tunggu karena keterbatasan armada yang dimiliki pemerintah daerah.
Pustakawan Ahli Muda Dispusip Kabupaten Sumenep, Syaiful Bahri, mengatakan seluruh agenda Perpusling dilaksanakan berdasarkan permintaan sekolah, sehingga pelayanan diberikan secara merata tanpa membedakan jenjang maupun status lembaga pendidikan.
“Besok kami kembali melaksanakan Perpusling di wilayah Gunggung. Semua kegiatan dilakukan berdasarkan surat permohonan dari sekolah. Jadi bukan kami yang menentukan sendiri, tetapi memang ada kebutuhan dan permintaan dari pihak sekolah,” ujarnya. Kamis (30/7/26).
Menurutnya, Perpusling tidak sekadar meminjamkan buku kepada siswa. Setiap kunjungan dirancang sebagai ruang belajar yang menyenangkan melalui berbagai aktivitas edukatif agar budaya membaca tumbuh secara alami.
Tim Perpusling mengajak siswa mengenal beragam jenis buku, memberikan sosialisasi pentingnya membaca, menggelar permainan edukatif, hingga mengenalkan bacaan yang disesuaikan dengan minat dan hobi masing-masing anak.
“Kegiatannya mengenalkan buku, mengajak anak-anak membaca, memberikan sosialisasi tentang manfaat membaca, ada permainan edukatif, kemudian kami juga mengenalkan buku sesuai dengan hobi mereka agar anak-anak lebih tertarik,” jelasnya.
Lebih dari itu, Dispusip juga memanfaatkan setiap kunjungan sebagai media pelestarian identitas lokal. Para pelajar dikenalkan kembali pada permainan tradisional, sejarah Kabupaten Sumenep, serta kekayaan budaya Madura yang mulai jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami juga mengenalkan permainan tradisional, sejarah Sumenep, budaya Sumenep, dan berbagai pengetahuan lokal lainnya agar anak-anak tidak melupakan identitas daerahnya,” jelas Syaiful.
Pelaksanaan Perpusling juga kerap diselaraskan dengan agenda sekolah seperti class meeting maupun kegiatan pasca-ujian. Momentum tersebut dinilai efektif karena siswa memiliki waktu lebih longgar untuk membaca dan mengikuti aktivitas literasi secara santai namun tetap edukatif.
Program tersebut tidak hanya menjangkau sekolah negeri. Dispusip memastikan seluruh lembaga pendidikan memiliki kesempatan yang sama, termasuk sekolah swasta dan pondok pesantren yang selama ini juga aktif mengajukan permohonan layanan.
Tidak berhenti di lingkungan pendidikan, Dispusip juga memperluas gerakan literasi ke ruang publik. Setiap hari Minggu, layanan Perpusling rutin hadir di kawasan Taman Adipura sebagai ruang baca terbuka bagi masyarakat.
Menurut Syaiful, kegiatan akhir pekan tersebut mendapat sambutan positif dari keluarga yang memanfaatkan waktu libur untuk mengenalkan budaya membaca kepada anak sejak usia dini.
“Kalau hari Minggu kami hadir di Taman Adipura supaya masyarakat lebih mudah mengakses buku. Banyak orang tua datang bersama anak-anak mereka untuk membaca di sana,” katanya.
“Permintaan dari sekolah sangat banyak. Karena armadanya terbatas, akhirnya ada sekolah yang harus menunggu giliran untuk mendapatkan layanan Perpusling,” pungkas Syaiful.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











