SUMENEP, Garuda Jatim – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mengajak seluruh pelajar, guru, dan tenaga kependidikan menjadikan semangat kemerdekaan sebagai energi baru untuk membangun budaya belajar yang lebih kuat, memperluas literasi, serta melahirkan generasi berprestasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Ajakan tersebut tidak sekadar menjadi seruan seremonial menyambut bulan kemerdekaan. Disdik Sumenep ingin menjadikan momentum nasional itu sebagai pengingat bahwa perjuangan bangsa kini bergeser dari merebut kemerdekaan menuju memenangkan persaingan melalui kualitas sumber daya manusia.
Sekolah dipandang sebagai ruang strategis untuk menumbuhkan karakter, kreativitas, dan daya saing anak bangsa sejak dini.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Moh. Iksan, menegaskan bahwa makna kemerdekaan saat ini harus dipahami lebih luas daripada sekadar terbebas dari penjajahan.
Menurutnya, kemerdekaan sejati juga berarti terbukanya ruang bagi setiap anak untuk berpikir kritis, belajar tanpa batas, serta menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia ini, mari jadikan pendidikan sebagai jembatan utama menuju bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur,” ujar Moh. Iksan. Kamis (6/8/26)
Ia menilai, peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dari penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah. Kebiasaan membaca, berdiskusi, menulis, dan berpikir kritis diyakini menjadi fondasi utama dalam menciptakan peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Karena itu, Disdik Sumenep mengajak seluruh satuan pendidikan menjadikan literasi sebagai gerakan bersama, bukan sekadar program yang dijalankan pada waktu tertentu.
Budaya membaca dan belajar harus menjadi identitas sekolah agar mampu melahirkan generasi yang inovatif sekaligus berdaya saing.
“Melalui dedikasi mengajar yang adil, kita sedang menenun masa depan Indonesia yang makmur,” katanya.
Dalam pandangan Iksan, guru tetap menjadi aktor utama dalam menentukan arah masa depan bangsa. Peran pendidik bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, kepedulian, dan semangat belajar sepanjang hayat kepada peserta didik.
Ia menyebut, guru yang terus menjaga konsistensi membangun budaya literasi sejatinya sedang melahirkan peradaban baru yang lebih maju.
Oleh sebab itu, pihaknya menyatakan profesi guru harus terus memperoleh dukungan agar mampu menjalankan tugasnya secara optimal di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
“Pahlawan masa kini adalah guru yang konsisten menyalakan lilin literasi di ruang kelas,” ungkapnya.
Ia berharap semangat kemerdekaan tahun ini tidak hanya diwujudkan melalui berbagai perlombaan dan upacara peringatan, tetapi juga menjadi awal lahirnya komitmen baru seluruh warga sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Dengan pendidikan yang dijalankan secara tulus, inklusif, dan berorientasi pada penguatan karakter, cita-cita mewujudkan Generasi Emas Indonesia diyakini akan semakin dekat,” imbuhnya.
“Mendidik dengan hati adalah kunci melahirkan generasi emas yang berdaulat dan berkarakter,” pungkas Moh. Iksan.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











