JEMBER, Garuda Jatim – Laju ekonomi Kabupaten Jember, sepanjang 2025 – 2026 menunjukkan akselerasi kuat dengan lonjakan investasi hingga 70 persen, mempertegas posisi daerah ini sebagai salah satu tujuan utama penanaman modal di kawasan Jawa Timur.
Di saat yang sama, tekanan inflasi yang sedikit melampaui angka nasional menjadi perhatian serius pemerintah daerah, yang kini memperkuat strategi pengendalian harga agar pertumbuhan ekonomi tetap seimbang.
Realisasi investasi di Jember sepanjang 2025 mencapai Rp2,57 triliun, meningkat signifikan dari Rp1,51 triliun pada tahun sebelumnya. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat, capaian ini tidak hanya melampaui target RPJMD 2025–2029 sebesar Rp1,85 triliun, tetapi juga mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap iklim usaha daerah.
Bupati Jember, Muhammad Fawait menyebutkan, investasi yang masuk berasal dari 457 unit usaha dan mampu menyerap hampir 10 ribu tenaga kerja baru.
“Pertumbuhan ini bukan sekadar angka. Kami pastikan investasi yang masuk memberi dampak nyata bagi masyarakat, terutama dalam penciptaan lapangan kerja,” ujarnya. Sabtu (4/4/26)
Ia menegaskan, sektor properti dan kawasan industri menjadi tulang punggung investasi dengan nilai mencapai Rp1,44 triliun.
“Sementara sektor lainnya yang turut berkontribusi antara lain industri makanan sebesar Rp302,86 miliar, kimia dan farmasi Rp212,04 miliar, mineral non-logam Rp176,21 miliar, serta perdagangan dan reparasi Rp138,4 miliar,” tegasnya.
Namun, lanjut dia, di tengah pertumbuhan tersebut, tekanan harga mulai terasa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi tahunan Jember pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,84 persen—lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,48 persen dan inflasi Jawa Timur sebesar 3,79 persen.
Pihaknya menyatakan, kenaikan harga paling signifikan terjadi pada kelompok perawatan pribadi yang melonjak hingga 13,66 persen. Meski demikian, beberapa sektor seperti teknologi informasi dan jasa keuangan justru mengalami deflasi sebesar 2,56 persen, yang turut menahan laju inflasi secara keseluruhan.
Pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus mengintensifkan langkah pengendalian dengan pendekatan 4K, yakni menjaga keterjangkauan harga, menjamin ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi publik.
Operasi pasar rutin, pengawasan distribusi bahan pokok, serta penguatan koordinasi lintas sektor menjadi fokus utama untuk memastikan stabilitas harga tetap terjaga.
“Stabilitas ekonomi adalah kunci. Kami ingin pertumbuhan investasi berjalan beriringan dengan daya beli masyarakat yang tetap kuat,” papar Gus Fawait.
Dengan tren ini, Jember tidak hanya menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang agresif, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan antara ekspansi investasi dan stabilitas harga sebuah fondasi penting menuju kemandirian ekonomi daerah.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











