Rekaman di Sumenep, Rebana Assalafiyah Hidupkan Kembali Terbang Karatangan Warisan Leluhur

Rabu, 1 April 2026 - 21:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kelompok Kesenian Rebana Klasik Assalafiyah asal Larangan, Pamekasan, saat melakukan rekaman di OS Studio (Za - garudajatim.com)

i

Kelompok Kesenian Rebana Klasik Assalafiyah asal Larangan, Pamekasan, saat melakukan rekaman di OS Studio (Za - garudajatim.com)

PAMEKASAN, Garuda Jatim — Di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap mengikis identitas budaya lokal, langkah berbeda justru ditunjukkan Kelompok Kesenian Rebana Klasik Assalafiyah asal Larangan, Pamekasan, Jawa Timur.

Mereka menapaki babak baru pelestarian tradisi dengan melakukan rekaman profesional di OS Studio, Kabupaten Sumenep.

Rekaman tersebut difokuskan pada pengarsipan “Terbang Karatangan”, sebuah pakem rebana khas Pamekasan yang selama ini diwariskan secara turun-temurun tanpa dokumentasi standar. Inisiatif ini menjadi tonggak penting dalam menjaga keaslian pola tabuhan, struktur musikal, hingga nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Pengampu grup, Kiai Jawahir, mengungkapkan bahwa instrumen yang digunakan bukan sekadar alat musik biasa. Rebana tersebut diperkirakan telah berusia sekitar 300 tahun, menjadikannya sebagai artefak hidup yang menyimpan jejak panjang sejarah budaya Islam Madura.

Sementara itu, promotor, Mpu Fauzi,  menegaskan bahwa proses rekaman ini merupakan bagian dari strategi pelestarian jangka panjang.

“Kami ingin memastikan bahwa warisan ini tidak hilang atau berubah bentuk. Dengan rekaman profesional, standar keasliannya bisa dijaga,” ujarnya. Rabu (1/4/26)

Proyek ini juga mendapat dukungan penuh dari pegiat konservasi seni tradisional sekaligus pemilik OS Studio, Khoridi, pihaknya menilai langkah Assalafiyah sebagai contoh konkret bagaimana komunitas lokal mampu mengambil peran strategis dalam menjaga warisan budaya.

“Tradisi tidak cukup hanya dipentaskan, tetapi harus diarsipkan dengan baik. Apa yang dilakukan hari ini adalah investasi kebudayaan untuk masa depan,” kata Rifan.

Dalam proses rekaman tersebut, Rebana Assalafiyah tampil dengan formasi lengkap: 12 penabuh rebana serta 7 hingga 10 anggota tim ruddat yang menghadirkan gerak tari khas sebagai pelengkap pertunjukan. Kekompakan ini memperlihatkan kekuatan kolektif yang menjadi ciri utama kesenian tradisional Madura.

Yang tak kalah menarik, komposisi personel memperlihatkan perpaduan erat antara generasi tua dan muda. Nama-nama sesepuh seperti Rifa’i, Supandi, Sun, Pasulah, dan H. Syaiful, hadir berdampingan dengan generasi penerus seperti Adul Adim, Rahmad, Fauzi, Umam, Rian, hingga Berril.

Sinergi lintas generasi ini menegaskan bahwa estafet tradisi masih berjalan, bahkan dalam format yang lebih adaptif tanpa meninggalkan akar keasliannya.

Lebih jauh, kesenian rebana yang dibawakan Assalafiyah tidak hanya berdimensi estetika, tetapi juga spiritual. Lantunan selawat yang mereka kumandangkan menjadi media dakwah sekaligus penguat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Salah satu bait yang menggema dalam rekaman tersebut berbunyi, “Man Yamut Fi Hubbihi Nala Kullal Mathlabi”, yang mengandung makna mendalam tentang puncak kebahagiaan spiritual melalui cinta kepada Rasul.

Hasil rekaman ini rencananya akan dipublikasikan dalam berbagai format, baik fisik maupun digital, agar dapat diakses lebih luas oleh masyarakat. Dengan demikian, “Terbang Karatangan” tidak hanya bertahan sebagai tradisi lokal, tetapi juga berpotensi dikenal di tingkat nasional hingga global.

Langkah ini menjadi penegasan bahwa di tengah perubahan zaman, warisan leluhur tetap bisa hidup selama ada kemauan untuk merawat dan mendokumentasikannya dengan serius.(Za/Di)

Penulis : Za

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bappeda Sumenep Alihkan Pembiayaan PBI-JK 665.979 Jiwa ke APBN, Anggaran Daerah Dialihkan untuk Perkuat Layanan Kesehatan
Bawang Rubaru Naik Kelas, Bupati Sumenep Raih Apresiasi Kementan atas Keberhasilan UPLAND
Pemkab Sumenep Buka Dasar Hitung Dana Cadangan Pilkada 2029 Rp75 Miliar, Wabup: Fiskal Jangan Sampai Tergerus
129 Kepala Sekolah Dilantik, Wabup Sumenep Ingatkan Teknologi Tak Boleh Mengikis Karakter
Khofifah Bawa 150 Drum Aspal untuk Sumenep, Wabup Imam Hasyim: Alhamdulillah, Semoga Bermanfaat untuk Masyarakat
Wabup Sumenep Dampingi Khofifah, Pantai Slopeng Disulap Jadi Pusat Layanan Warga
Sae Rassa Restaurant MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Sajikan A Taste of Home
Sae Rassa Hidupkan Malam Sumenep, Live Music dan Suki & Sushi Jadi Teman Bersantai
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 20:54 WIB

Bappeda Sumenep Alihkan Pembiayaan PBI-JK 665.979 Jiwa ke APBN, Anggaran Daerah Dialihkan untuk Perkuat Layanan Kesehatan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 20:39 WIB

Bawang Rubaru Naik Kelas, Bupati Sumenep Raih Apresiasi Kementan atas Keberhasilan UPLAND

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Pemkab Sumenep Buka Dasar Hitung Dana Cadangan Pilkada 2029 Rp75 Miliar, Wabup: Fiskal Jangan Sampai Tergerus

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:08 WIB

129 Kepala Sekolah Dilantik, Wabup Sumenep Ingatkan Teknologi Tak Boleh Mengikis Karakter

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:53 WIB

Khofifah Bawa 150 Drum Aspal untuk Sumenep, Wabup Imam Hasyim: Alhamdulillah, Semoga Bermanfaat untuk Masyarakat

Berita Terbaru