SUMENEP, Garuda Jatim – Logo Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke-758 bukan sekadar identitas visual perayaan tahunan. Karya terbaik hasil sayembara yang dimenangkan oleh Choirur Rahman itu hadir sebagai narasi simbolik yang merangkum sejarah panjang, kekayaan budaya, karakter masyarakat, hingga arah pembangunan daerah di masa mendatang.
Peluncuran logo tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian Hari Jadi Sumenep ke-758 dengan mengusung tema “Songennep Sodek Parjuga”, yang menggambarkan Sumenep sebagai daerah yang berakar kuat pada budaya, menjunjung kebijaksanaan, dan terus melangkah menuju kemajuan yang bermartabat.
Berbeda dari logo peringatan pada umumnya yang hanya menonjolkan unsur estetika, desain karya Choirur Rahman memadukan berbagai ikon khas Sumenep dalam satu komposisi yang sarat makna.
Setiap garis, warna, dan elemen visual dirancang untuk merepresentasikan jati diri daerah yang telah berdiri selama lebih dari tujuh abad. Kehadiran Tari Sintong, keris, motif batik, hingga simbol migas menjadi representasi harmonis antara warisan budaya dan potensi ekonomi yang menjadi kekuatan Kabupaten Sumenep.
Sebagai peraih Juara I sayembara desain logo Hari Jadi ke-758 Kabupaten Sumenep, Choirur Rahman menjelaskan bahwa konsep yang diusung dalam karyanya berangkat dari keinginan menghadirkan simbol yang mampu merepresentasikan wajah Sumenep secara utuh.
Menurutnya, logo tersebut tidak hanya menggambarkan kejayaan masa lalu, tetapi juga memotret semangat masyarakat dalam menyongsong masa depan yang lebih maju tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitas daerah.
“Dalam filosofi logo, Tari Sintong ditempatkan sebagai simbol keteguhan nilai, keluhuran budi, serta keseimbangan antara budaya dan spiritualitas. Elemen ini menggambarkan karakter masyarakat Sumenep yang santun, berprinsip, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan,” ujarnya. Selasa (23/6/26)
Ia menegaskan, peluncuran logo Hari Jadi ke-758 ini sekaligus menjadi ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat rasa memiliki terhadap daerah.
“Melalui simbol yang lahir dari kreativitas putra daerah, kami berharap semangat kolaborasi, inovasi, dan kebanggaan terhadap identitas lokal semakin tumbuh dalam mendukung pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” tegasnya.
“Lebih dari sekadar karya desain, logo ini menjadi wajah baru semangat Sumenep. Sebuah simbol yang menyatukan sejarah, budaya, sumber daya, dan harapan dalam satu visual yang menegaskan bahwa Kabupaten Sumenep terus bergerak maju dengan tetap menjaga marwah sebagai daerah yang kaya tradisi dan berdaya saing tinggi,” tukasnya.
Berikut filosofi logo hari jadi Sumenep ke-758:
Tari Sintong, melambangkan keteguhan nilai, keluhuran budi, dan keharmonisan budaya serta spiritualitas. Gerakannya mencerminkan karakter masyarakat Sumenep yang santun, berprinsip, dan berwibawa.
Keris, melambangkan kehormatan, keberanian, dan kebijaksanaan yang menjadi jati diri Sumenep sebagai Kota Keris.
Batik, Melambangkan kekayaan budaya, kreativitas, dan kearifan lokal yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Migas, melambangkan kekayaan dan energi alam Sumenep yang menjadi anugerah sekaligus penggerak kemajuan daerah.
Warna Merah, melambangkan keberanian, semangat juang, dan keteguhan dalam menghadapi tantangan demi kemajuan Sumenep.
Warna Kuning, melambangkan kejayaan, kemuliaan, dan harapan akan masa depan yang lebih maju dan sejahtera.
Warna Hijau, melambangkan kesejukan, kerukunan, dan keharmonisan yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Sumenep.
Angka 758, merepresentasikan Songennep yang SODEK PARJUGA sebagai perjalanan panjang yang berakar pada budaya, menjunjung kebijaksanaan, dan mengukir kemajuan yang bermartabat.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











