Rokok Lokal Madura Jadi Penyangga Ekonomi, Petani Tembakau dan Buruh Kini Lebih Optimistis

Selasa, 19 Mei 2026 - 08:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Industri rokok lokal di Sumenep, Madura, Jawa Timur (Istimewa - garudajatim.com)

i

Industri rokok lokal di Sumenep, Madura, Jawa Timur (Istimewa - garudajatim.com)

SUMENEP, Garuda Jatim – Industri rokok lokal di Madura, Jawa Timur, mulai menunjukkan perannya sebagai penggerak ekonomi kerakyatan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat desa.

Di tengah tantangan sektor pertanian dan naiknya kebutuhan hidup, keberadaan pabrik rokok lokal di Kabupaten Sumenep kini menjadi tumpuan baru bagi petani tembakau sekaligus sumber penghasilan bagi ribuan tenaga kerja.

Dalam beberapa tahun terakhir, geliat industri rokok lokal tidak hanya memperkuat rantai usaha tembakau di tingkat bawah, tetapi juga menciptakan stabilitas harga yang sebelumnya sulit dirasakan petani.

Kondisi ini menjadi angin segar bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun menghadapi ketidakpastian pasar dan fluktuasi harga hasil panen.

Pada musim panen 2024, harga tembakau di sejumlah gudang lokal di Sumenep tercatat berada di kisaran Rp55 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram, bergantung pada kualitas dan tingkat kekeringan daun tembakau.

Angka tersebut dinilai jauh lebih menguntungkan dibanding kondisi beberapa tahun sebelumnya yang sempat membuat petani merugi akibat harga anjlok di bawah Rp30 ribu per kilogram.

Peningkatan daya serap hasil panen juga menjadi faktor penting yang mendorong optimisme petani. Salah satu gudang rokok lokal di Kabupaten Sumenep bahkan tercatat mampu menyerap sekitar 930 ton tembakau atau setara lebih dari 19.400 bal selama musim panen tahun lalu.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh petani tembakau asal Kecamatan Guluk-Guluk, Imam (48). Pihaknya menyebut kehadiran industri rokok lokal telah mengubah pola pikir petani yang sebelumnya khawatir hasil panen tidak terserap pasar.

“Dulu petani sering bingung setelah panen karena harga bisa jatuh sewaktu-waktu. Sekarang lebih tenang karena pembeli banyak dan harga cenderung stabil,” ujarnya. Selasa (19/5/26).

Menurut Imam, meningkatnya jumlah pabrik rokok lokal di Madura membuat petani kembali percaya diri untuk menanam tembakau dalam skala lebih luas. Kepastian pasar dinilai menjadi faktor utama yang membuat sektor pertanian tembakau kembali bergairah.

Senada disampaikan oleh petani asal Kecamatan Lenteng, Hazbul (38),. Ia mengaku dalam beberapa musim terakhir hampir seluruh hasil panen petani dapat terserap industri lokal tanpa harus menunggu lama.

“Sekarang petani merasa lebih aman. Hasil panen cepat terserap dan pembayaran juga lebih jelas. Ini sangat membantu ekonomi keluarga,” tegasnya.

Tak hanya memberikan dampak pada sektor pertanian, industri rokok lokal juga berkembang menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di sejumlah wilayah pedesaan. Banyak warga, khususnya perempuan, kini memperoleh penghasilan tambahan melalui pekerjaan linting rokok, pengemasan hingga distribusi hasil produksi.

Sementara warga Kecamatan Lenteng yang bekerja sebagai buruh linting rokok, Rina (35), mengaku kehidupannya berubah sejak bekerja di industri tersebut. Pendapatan yang diperoleh setiap minggu membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anak.

“Dulu hanya mengandalkan penghasilan suami. Sekarang saya bisa ikut membantu ekonomi keluarga dari pekerjaan ini,” tuturnya.

Fenomena berkembangnya industri rokok lokal di Madura dinilai menjadi bukti bahwa sektor berbasis potensi daerah mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan.

Selain menjaga perputaran ekonomi desa, lanjut Rina, industri ini juga menciptakan efek domino terhadap sektor lain seperti perdagangan, transportasi hingga usaha kecil di sekitar sentra produksi.

“Di Kabupaten Sumenep sendiri, tembakau masih menjadi salah satu komoditas unggulan masyarakat pedesaan. Karena itu, keberadaan industri rokok lokal dianggap memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan ekonomi ribuan petani dan pekerja yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut,” sambungnya.

“Dengan meningkatnya daya serap hasil panen dan terbukanya lapangan pekerjaan baru, industri rokok lokal kini tidak sekadar dipandang sebagai sektor usaha, tetapi juga bagian penting dari denyut ekonomi masyarakat Madura,” tukasnya.(Za/Di)

Penulis : Za

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI
Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme
Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal
Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival
Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026
PKKMB UPI Sumenep Tantang 530 Maba Jadi Generasi Pencipta Karya
Lakpesdam dan LPBH NU Desak THM Bermasalah Ditutup Permanen, Kapolresta Sumenep: Jika Terbukti Melanggar, Tindak Tegas
Karapan Sapi Sumenep 2026 Siap Dimulai, Delapan Korwil Berebut Tiket ke Piala Presiden
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:45 WIB

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 14:10 WIB

Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme

Jumat, 28 Agustus 2026 - 18:27 WIB

Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:48 WIB

Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026

Berita Terbaru