SUMENEP, Garuda Jatim – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, turut ambil bagian dalam kemeriahan Madura Night Vaganza 2026 yang resmi dibuka di GOR A. Yani Pangligur Sumenep.
Di tengah riuhnya event tersebut membawa satu pesan penting, pembangunan daerah juga harus berjalan beriringan dengan pembangunan manusia melalui literasi.
Keikutsertaan Dispusip Sumenep dalam Madura Night Vaganza 2026 menjadi ruang untuk mendekatkan layanan perpustakaan dan kearsipan kepada masyarakat dengan cara yang lebih terbuka dan komunikatif.
Jika pameran pembangunan selama ini identik dengan angka, program dan infrastruktur, kehadiran Dispusip memberikan warna berbeda.
Pengetahuan, budaya membaca, akses informasi dan penguatan sumber daya manusia ikut ditempatkan sebagai bagian dari wajah pembangunan Sumenep.
Madura Night Vaganza 2026 resmi dibuka oleh Bupati Sumenep melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Sumenep Agus Dwi Saputra. Event tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan capaian pembangunan sekaligus mempertemukan berbagai potensi daerah dalam satu ruang.
Kepala Dispusip Sumenep Rudi Yuyianto mengatakan, perpustakaan harus menjadi ruang yang hidup, tempat masyarakat memperoleh pengetahuan, menemukan inspirasi dan meningkatkan kemampuan untuk menghadapi perubahan zaman.
“Literasi tidak boleh hanya tinggal di rak-rak buku. Literasi harus hadir di tengah masyarakat, menjadi bekal untuk meningkatkan pengetahuan, kreativitas dan produktivitas,” ujarnya. Kamis (27/8/26)
Menurutnya, keikutsertaan Dispusip dalam Madura Night Vaganza menjadi momentum untuk memperkenalkan bahwa perpustakaan memiliki peran yang jauh lebih luas dalam mendukung pembangunan daerah.
“Ketika masyarakat semakin mudah mendapatkan pengetahuan dan informasi yang benar, maka semakin besar pula peluang mereka untuk mengembangkan potensi yang dimiliki,” katanya.
Ia menilai, penguatan literasi bahkan memiliki hubungan langsung dengan pemberdayaan ekonomi. Pelaku UMKM, misalnya, membutuhkan pengetahuan mengenai pemasaran, pengelolaan usaha, teknologi digital, pengemasan hingga membaca peluang pasar.
Begitu pula generasi muda yang membutuhkan akses informasi untuk mengembangkan kreativitas dan kompetensinya.
“Pembangunan manusia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan daerah. Karena itu, kami ingin perpustakaan menjadi salah satu ruang yang ikut mendorong masyarakat agar terus belajar dan berkembang,” lanjutnya.
Dari Panggung Budaya Menuju Pemberdayaan
Madura Night Vaganza 2026 pada akhirnya tidak hanya mempertemukan pemerintah dan masyarakat, tetapi juga mempertemukan berbagai potensi Sumenep dalam satu panggung.
UMKM membawa produk lokal, pelaku seni membawa kreativitas, sektor pariwisata menawarkan daya tarik daerah, sementara Dispusip membawa kekuatan yang tidak selalu terlihat secara kasat mata: pengetahuan.
“Semangat tersebut sejalan dengan pesan Pemkab Sumenep bahwa pembangunan harus menghasilkan manfaat nyata, mulai dari peningkatan pendapatan, terbukanya lapangan kerja, pengurangan kemiskinan hingga peningkatan kualitas pelayanan publik,” imbuhnya.
Sementara itu Sekda Sumenep Agus Dwi Saputra menyatakan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Pemkab berharap Madura Night Vaganza bukan hanya menjadi tontonan masyarakat, tetapi mampu menjadi pintu masuk untuk memperluas promosi potensi daerah, mendatangkan wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal.
“Semoga kegiatan ini menarik kunjungan wisata ke Sumenep dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan,” kata Agus.
Menurutnya, pameran pembangunan memiliki fungsi lebih besar daripada sekadar menampilkan hasil kerja pemerintah. Forum tersebut menjadi ruang komunikasi agar masyarakat mengetahui apa yang sudah dilakukan sekaligus memahami pekerjaan pembangunan yang masih harus diperjuangkan bersama.
“Pameran pembangunan menjadi ruang komunikasi pemerintah dengan masyarakat tentang apa yang telah dikerjakan dan yang harus diperjuangkan bersama,” bebernya.
Agus menegaskan, keberhasilan pembangunan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya infrastruktur yang berdiri. Ukuran paling penting adalah seberapa jauh pembangunan tersebut memberikan manfaat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pertanian, kelautan dan perikanan, pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, seni dan budaya dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat perekonomian masyarakat Sumenep.
“Setiap program pembangunan harus meningkatkan pendapatan, membuka lapangan kerja, mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas layanan publik,” ungkap Agus.
“Di tengah berbagai potensi yang dipamerkan, Dispusip Sumenep ingin menunjukkan bahwa perpustakaan tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat menyimpan dan membaca buku,” tandasnya.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











