SUMENEP, Garuda Jatim – Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Jawa Timur, siap menyelenggarakan ajang karapan sapi seleksi tingkat korwil dan Kabupaten menuju piala Presiden 2026.
Bukan sekadar adu cepat di lintasan, rangkaian Lomba Karapan Sapi Piala Presiden 2026 menjadi ruang pembuktian bagi para pemilik sapi kerap sekaligus upaya menjaga warisan budaya Madura agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Berdasarkan jadwal yang beredar, persaingan diawali melalui seleksi tingkat Korwil Kabupaten Sumenep yang digelar secara bertahap mulai Agustus hingga September 2026.
Sebanyak delapan wilayah menjadi bagian dari rangkaian seleksi, yakni Manding, Bluto, Batang-Batang, Nonggunong, Ambunten, Guluk-Guluk, Gayam dan Kota Sumenep.
Seleksi pertama dijadwalkan berlangsung di Lapangan Gayam, Kecamatan Manding, Minggu 9 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB. Berikutnya, Bluto dijadwalkan pada 16 Agustus, Batang-Batang 23 Agustus, Nonggunong 1 September, Ambunten 5 September, Guluk-Guluk 12 September, Gayam 15 September, dan Kota Sumenep 19 September 2026.
Tahapan tersebut menjadi pintu awal menuju persaingan yang lebih besar. Para jawara dari masing-masing wilayah nantinya akan berhadapan dalam tingkat Kabupaten Sumenep yang dijadwalkan berlangsung di Stadion Giling, Minggu 4 Oktober 2026.
Dari arena inilah pasangan sapi terbaik akan memiliki kesempatan membawa nama Sumenep ke panggung yang lebih tinggi dalam Grand Final Karapan Sapi Piala Presiden RI 2026, yang dijadwalkan berlangsung Minggu, 25 Oktober 2026 pukul 09.00 WIB.
Bukan Sekadar Kecepatan
Karapan sapi memiliki posisi khusus dalam kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat Madura. Pemerintah Kabupaten Sumenep sebelumnya juga menempatkan kerapan sapi sebagai bagian dari upaya mempertahankan identitas budaya daerah.
Dalam penyelenggaraan tingkat kabupaten 2026, misalnya, ajang tersebut menjadi sarana memilih pasangan sapi yang akan membawa nama Sumenep ke tingkat yang lebih tinggi.
Karena itu, rangkaian 2026 tidak hanya berbicara mengenai siapa sapi tercepat. Di balik lintasan terdapat kerja panjang para pemilik dan perawat sapi, mulai dari pemeliharaan, pelatihan, hingga persiapan menghadapi kompetisi.
Kepala Disbudporapar Sumenep, Faruk Hanafi, menegaskan bahwa karapan sapi harus dipandang sebagai kekayaan budaya yang memiliki nilai lebih luas.
“Karapan sapi bukan hanya sebuah perlombaan untuk mencari siapa yang paling cepat. Di dalamnya ada tradisi, kerja keras para pemilik sapi, kebersamaan masyarakat, sekaligus identitas budaya Madura yang harus terus kita jaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Faruk Hanafi. Sabtu (22/8/26)
Menurutnya, penyelenggaraan secara berjenjang dari tingkat wilayah hingga tingkat kabupaten juga penting untuk memberikan ruang yang lebih luas kepada para pegiat karapan sapi di berbagai kecamatan.
“Kami ingin seluruh prosesnya berjalan dengan baik, tertib dan menjunjung nilai-nilai budaya. Yang kita bangun bukan hanya kompetisinya, tetapi juga ekosistem kebudayaan dan pariwisatanya. Karapan sapi harus mampu menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus daya tarik bagi orang luar untuk datang ke Sumenep,” katanya.
Menjaga Tradisi, Menggerakkan Ekonomi
Momentum karapan sapi juga berpotensi memberi efek berantai terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika arena pertandingan dipadati penonton, sektor perdagangan kecil, kuliner, transportasi hingga pelaku ekonomi kreatif turut memperoleh ruang.
“Hal tersebut sejalan dengan perkembangan karapan sapi di Madura yang dalam berbagai penyelenggaraan tidak hanya diposisikan sebagai olahraga tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari promosi budaya dan pariwisata,” tegas Faruq.
Pada penyelenggaraan karapan sapi di Madura tahun ini, misalnya, ribuan masyarakat hadir dan kegiatan tersebut turut melibatkan pelaku UMKM serta ekonomi kreatif.
Bagi pihaknya, rangkaian panjang menuju Grand Final Piala Presiden 2026 menjadi kesempatan untuk mempertemukan tiga kekuatan sekaligus: tradisi, prestasi dan pariwisata.
Dengan demikian, ketika dua ekor sapi melesat di lintasan, yang dipertaruhkan bukan semata-mata kecepatan. Ada nama pemilik, kebanggaan wilayah, martabat budaya dan identitas masyarakat Madura yang ikut berlari di dalamnya.
“Dari lapangan-lapangan Korwil, menuju Stadion Giling, hingga panggung Grand Final Piala Presiden karapan sapi Sumenep 2026 bersiap kembali menjadikan lintasan sebagai panggung besar kebudayaan Madura,” tukasnya.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











