SUMENEP, Garuda Jatim – Keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep membuat peran tenaga bidan semakin tidak tergantikan.
Di tengah tantangan geografis yang memisahkan puluhan pulau, bidan menjadi garda paling depan dalam menjaga keselamatan ibu hamil dan bayi sejak masa kehamilan hingga persalinan.
Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, dr. Erliyati, menegaskan tenaga bidan memiliki posisi vital dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal jauh dari akses rumah sakit maupun pusat layanan kesehatan.
Menurutnya, keberadaan bidan di desa dan wilayah kepulauan bukan hanya membantu proses persalinan, tetapi juga menjadi penghubung utama masyarakat terhadap layanan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh.
“Bidan menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan bayi, terutama di daerah dengan akses kesehatan terbatas. Mereka hadir paling dekat dengan masyarakat,” ujar dr. Erliyati. Senin (18/5/26).
Ia mengungkapkan, kondisi geografis Kabupaten Sumenep yang didominasi wilayah kepulauan menyebabkan tidak semua masyarakat dapat dengan mudah menjangkau fasilitas kesehatan rujukan. Dalam situasi tersebut, bidan menjadi tenaga kesehatan pertama yang paling cepat memberikan pertolongan kepada ibu hamil maupun bayi baru lahir.
Tak jarang, lanjut dia, para bidan harus menghadapi berbagai kondisi darurat dengan fasilitas terbatas demi memastikan keselamatan pasien tetap terjaga.
“Di beberapa wilayah kepulauan, bidan menjadi tenaga kesehatan pertama bahkan satu-satunya yang dapat dijangkau masyarakat saat kondisi darurat,” ungkapnya.
Selain menangani persalinan, para bidan juga dinilai memiliki peran besar dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak. Mulai dari edukasi pemeriksaan kehamilan, pemenuhan gizi, pendampingan masa nifas, hingga pencegahan risiko komplikasi kehamilan dilakukan secara langsung di tengah masyarakat.
Pendekatan tersebut dinilai menjadi kekuatan tersendiri karena para bidan tidak hanya hadir sebagai tenaga medis, tetapi juga sebagai pendamping sosial yang memahami kondisi masyarakat setempat.
“Peran bidan bukan sekadar membantu persalinan, tetapi juga memberikan edukasi dan pendampingan agar ibu hamil merasa aman dan lebih siap menghadapi proses kelahiran,” jelasnya.
RSUDMA Sumenep menilai tantangan pelayanan kesehatan ke depan akan semakin kompleks, terutama dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi di daerah kepulauan.
Karena itu, pihaknya menyatakan peningkatan kualitas sumber daya manusia kebidanan serta pemerataan distribusi tenaga bidan dinilai harus menjadi perhatian bersama.
Erliyati menekankan pentingnya dukungan semua pihak, baik pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, maupun masyarakat untuk memperkuat pelayanan kesehatan berbasis wilayah kepulauan.
“Peningkatan kompetensi tenaga bidan dan pemerataan layanan kesehatan menjadi langkah penting agar pelayanan ibu dan anak semakin optimal hingga ke pelosok kepulauan,” tegasnya.
Momentum Hari Internasional Bidan, lanjut dia, harus menjadi pengingat bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan ibu dan anak tidak lepas dari dedikasi para bidan yang bekerja langsung di lapangan dengan berbagai keterbatasan.
Menurutnya, pengabdian bidan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan dasar di Kabupaten Sumenep.
“Keselamatan ibu dan bayi sangat bergantung pada kerja keras para bidan. Mereka adalah garda kemanusiaan yang bekerja langsung di tengah masyarakat,” tukasnya.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











