SUMENEP, Garuda Jatim – Pondok Pesantren (PP) Darurrahman, Sumenep, Jawa Timur, kembali menegaskan komitmennya dalam merawat tradisi keilmuan dan spiritualitas santri melalui kegiatan Ziarah Wali Lima yang diikuti santri aktif bersama para alumni.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin keagamaan, melainkan ikhtiar batin untuk menautkan kembali ruh perjuangan pesantren dengan jejak para wali penyebar Islam di Nusantara.
Ziarah tersebut dimaknai sebagai perjalanan batin yang mengajak santri untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk aktivitas belajar formal.
Di hadapan makam para wali, santri diajak menundukkan hati, menyadari bahwa ilmu tidak semata diwariskan lewat kitab dan pengajian, tetapi juga melalui keteladanan hidup, doa yang tak terputus, serta perjuangan panjang para ulama dalam menegakkan nilai Islam.
Ketua rombongan ziarah, Afkar Aulia Alhamdani, mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang refleksi kolektif antara santri dan alumni.
Menurutnya, ziarah menjadi medium penting untuk menghidupkan kembali kesadaran bahwa pesantren berdiri di atas fondasi spiritual yang kokoh.
“Ziarah Wali Lima ini kami niatkan sebagai ruang perenungan. Santri perlu mengenal para wali bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai sumber nilai keikhlasan, kebijaksanaan, dan keteguhan dalam menuntut serta mengamalkan ilmu,” ujarnya. Selasa (6/1/26)
Afkar menilai, kebersamaan santri dan alumni dalam satu rombongan memiliki makna simbolik yang kuat. Hal itu mencerminkan kesinambungan nilai pesantren yang tidak terputus oleh jarak, generasi, maupun perubahan zaman.
Nuansa perenungan juga dirasakan langsung oleh para santri peserta. Salah satu santri mengaku kegiatan ziarah tersebut memberi ketenangan batin sekaligus memperdalam makna mondok di pesantren.
“Saya merasa beruntung bisa ikut ziarah ini. Perjalanan ini membuat hati lebih tenang dan mengingatkan kembali tujuan mondok, yaitu mencari ilmu dengan adab dan keberkahan,” tuturnya.
Sementara salah perwakilan alumni, M. Rofiqul Mukhlisin, menyatakan bahwa ziarah ini memiliki arti yang lebih luas. Bagi alumni, kegiatan tersebut bukan hanya napak tilas spiritual, tetapi juga sarana merawat ikatan batin dengan guru dan pesantren agar tetap hidup dan relevan dalam perjalanan hidup masing-masing.
“Bagi kami para alumni, ziarah ini adalah jalan untuk menyambung kembali ikatan dengan guru dan pesantren. Ikatan itu tidak boleh berhenti hanya karena jarak dan waktu. Ziarah ini menjadi pengingat bahwa langkah kami hari ini tetap terhubung dengan doa, nasihat, dan keteladanan para guru,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kesinambungan hubungan antara guru, santri, dan alumni merupakan denyut utama tradisi pesantren. Dari sanalah nilai keilmuan dan akhlak diwariskan lintas generasi, tidak hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai laku hidup.
Melalui kegiatan Ziarah Wali Lima ini, Pihaknya berharap santri dan alumni tidak sekadar membawa pulang cerita perjalanan, tetapi juga kesadaran spiritual, sikap tawadhu’, serta semangat untuk menjaga dan mengamalkan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan bermasyarakat.
“Ziarah pun menjadi pengingat bahwa perjalanan ilmu selalu beriringan dengan perjalanan hati,” tandasnya.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











