Pelabuhan Talango Sumenep Tenggelam oleh Sampah

Rabu, 4 Februari 2026 - 12:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BEM UNIBA MADURA, M. Rofiqul Mukhlisin, saat ungkap tentang sampah di pulau Talango (Za - garudajatim.com)

i

BEM UNIBA MADURA, M. Rofiqul Mukhlisin, saat ungkap tentang sampah di pulau Talango (Za - garudajatim.com)

SUMENEP, Garuda Jatim — Pelabuhan Talango, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, gerbang utama transportasi laut Pulau, kini tak lagi mencerminkan wajah pelayanan publik.

Tumpukan sampah yang mencemari perairan dan area sandar kapal menjadikan pelabuhan ini lebih menyerupai tempat pembuangan akhir ketimbang simpul mobilitas warga kepulauan.

Kondisi tersebut merupakan akumulasi dari persoalan lama yang tak pernah dituntaskan, absennya sistem pengelolaan sampah di darat. Hingga kini, Pulau Talango belum memiliki fasilitas dasar berupa kontainer sampah dan pola pengangkutan rutin, terutama di pasar tradisional yang menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus produsen sampah terbesar.

Di pasar-pasar Talango, sampah dibiarkan menumpuk tanpa penanganan terstruktur. Sebagian dibakar, sebagian dibiarkan membusuk, dan sisanya perlahan mengalir ke lingkungan sekitar hingga bermuara ke laut. Dampaknya kini kasat mata, perairan Pelabuhan Talango tercemar sampah domestik, mengganggu kesehatan lingkungan, aktivitas nelayan, serta kenyamanan pengguna jasa transportasi laut.

Ketika sampah telah menguasai pelabuhan, persoalannya tidak lagi sebatas kebersihan. Ini menjadi indikator nyata kegagalan sistem pengelolaan sampah di darat dan lemahnya kehadiran negara dalam menjamin layanan dasar lingkungan hidup di wilayah kepulauan.

“Di Talango, pasar adalah sentral pembelanjaan sekaligus sentral produksi sampah. Jika pasar tidak difasilitasi kontainer dan sistem angkut rutin, maka laut yang dijadikan tempat pembuangan. Ini bukan kesalahan alam, tapi akibat kebijakan yang absen,” ujar BEM UNIBA MADURA, M. Rofiqul Mukhlisin. Rabu (4/2/26)

Menurutnya, pendekatan paling rasional dan terukur untuk Talango bukanlah pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) baru yang membutuhkan anggaran besar. Solusi mendesak justru terletak pada langkah minimum: penyediaan kontainer sampah di pasar-pasar utama serta pengangkutan rutin menuju TPA di daratan.

Persoalan pengangkutan sampah Talango sejatinya telah lama dibahas. Berdasarkan informasi yang pernah disampaikan secara internal, mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep pada 14 Mei 2025 di Kantor DLH menyebutkan bahwa skema pengangkutan sampah Talango sempat disampaikan kepada pihak kecamatan.

Namun rencana tersebut kandas dengan alasan teknis, yakni penggunaan tongkang yang dikhawatirkan terganggu oleh bau sampah.

“Alasan teknis tidak boleh dijadikan pembenaran untuk pembiaran. Jika satu skema bermasalah, maka kewajiban pemerintah adalah mencari alternatif lain, bukan menghentikan kebijakan dan membiarkan sampah terus menumpuk,” tegas Rofiqul.

Hingga saat ini, lanjut dia, solusi alternatif tersebut tidak pernah terealisasi. Sampah terus bergerak dari pasar ke pemukiman, lalu ke laut dan pelabuhan. Situasi ini menunjukkan adanya pembiaran struktural terhadap krisis lingkungan yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, ekosistem laut, serta citra pelayanan transportasi laut di wilayah kepulauan.

Ia menegaskan, pelabuhan Talango akhirnya menanggung beban dari sistem pengelolaan sampah yang gagal sejak dari hulu. Laut dipaksa menjadi TPA, sementara pasar dibiarkan tanpa fasilitas dasar yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.

“Kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep dan seluruh pemangku kepentingan terkait, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah kecamatan, hingga pengelola pasar, bahwa penyediaan kontainer sampah dan pengangkutan rutin bukan lagi pilihan kebijakan, melainkan keharusan,” tukasnya.

Talango tidak menuntut kebijakan besar yang ambisius. Yang ditagih masyarakat adalah langkah paling dasar dari negara, hadirkan kontainer sampah di pasar, pastikan pengangkutan berjalan rutin, dan hentikan praktik membiarkan laut serta pelabuhan menjadi korban dari kebijakan yang tak pernah benar-benar bekerja di darat.(Za/Di)

Penulis : Za

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI
Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme
Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal
Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival
Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026
PKKMB UPI Sumenep Tantang 530 Maba Jadi Generasi Pencipta Karya
Lakpesdam dan LPBH NU Desak THM Bermasalah Ditutup Permanen, Kapolresta Sumenep: Jika Terbukti Melanggar, Tindak Tegas
Karapan Sapi Sumenep 2026 Siap Dimulai, Delapan Korwil Berebut Tiket ke Piala Presiden
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:45 WIB

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 14:10 WIB

Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme

Jumat, 28 Agustus 2026 - 18:27 WIB

Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:48 WIB

Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026

Berita Terbaru