MBG Saronggi Sumenep Disorot, Nugget Bau hingga Nanas Busuk, Anak Sekolah Jadi Korban Kelalaian Sistemik

Rabu, 24 Desember 2025 - 15:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Saronggi, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep Nugget Bau hingga Nanas Busuk (Za - garudajatim.com)

i

Foto ilustrasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Saronggi, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep Nugget Bau hingga Nanas Busuk (Za - garudajatim.com)

SUMENEP, Garuda Jatim — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Saronggi, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, terus menuai keluhan keras dari wali murid dan masyarakat sekitar.

Sejak awal beroperasi, kualitas menu MBG dinilai bermasalah, bahkan memicu penolakan langsung dari para siswa. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius tentang kelayakan, pengawasan, dan tanggung jawab pengelola program.

Keluhan pertama mencuat saat menu olahan nugget dibagikan pada tahap awal pelaksanaan MBG. Sejumlah siswa menolak mengonsumsi makanan tersebut karena mengeluarkan bau tidak sedap, menimbulkan kekhawatiran akan keamanan dan kualitas bahan pangan yang digunakan.

“Anak saya bilang nuggetnya bau. Akhirnya tidak dimakan sama sekali. Kalau sudah begitu, jelas kami sebagai orang tua khawatir,” ujar salah satu wali murid dengan nada cemas. Rabu (24/12/25)

Masalah tak berhenti di situ. Beberapa hari kemudian, keluhan kembali muncul ketika menu kering dibagikan. Kali ini, siswa menerima buah nanas sebagai pelengkap makanan. Namun, banyak nanas yang diterima dalam kondisi busuk, lembek, dan tidak segar.

“Kemarin nanasnya banyak yang sudah busuk. Anak-anak tidak mau makan, bahkan ada yang langsung dibuang,” ungkap wali murid lainnya.

Rentetan persoalan ini membuat wali murid secara terbuka mempertanyakan sistem pengawasan yang dijalankan oleh pengelola SPPG Saronggi.

Mereka menilai kelalaian tidak mungkin terjadi jika proses pengecekan bahan makanan dilakukan secara ketat dan bertanggung jawab.

“Kami heran, sebelum dibagikan itu apa tidak dicek dulu? Masa makanan bau dan buah busuk bisa lolos sampai ke tangan anak-anak. Pengawasannya di mana?” jelas seorang wali murid dengan nada kecewa.

Menurut para orang tua, tanggung jawab pengawasan tidak boleh berhenti di dapur produksi semata, melainkan menjadi kewajiban manajemen SPPG secara menyeluruh, mulai dari pengadaan bahan, proses pengolahan, hingga distribusi ke sekolah.

“Ini bukan sekali dua kali. Kalau berulang, berarti sistem pengawasannya memang lemah. Jangan sampai anak-anak jadi korban kelalaian,” tegasnya.

Kekecewaan wali murid pun meluas ke ruang publik digital. Pada kolom komentar salah satu unggahan pemberitaan terkait MBG Saronggi, akun abidaqilshop meluapkan kritiknya.

“Tolong dong kasih menu yang masuk akal di bajetnya… kemarin juga nanas banyak yang busuk yang diterima siswa.” paparnya.

Nada sindiran serupa juga disampaikan akun Bunda Wardah, yang membandingkan mutu menu MBG dengan masakan sederhana rumahan, namun dinilai jauh lebih layak konsumsi.

Gelombang komentar tersebut memperkuat anggapan bahwa persoalan kualitas menu MBG di Saronggi bukan insiden tunggal atau kesalahan teknis semata, melainkan keluhan kolektif yang dirasakan langsung oleh siswa dan orang tua.

Kini, masyarakat dan wali murid mendesak agar pengelola MBG segera melakukan evaluasi menyeluruh, terutama pada aspek pengawasan bahan makanan, standar kelayakan konsumsi, serta transparansi pengelolaan anggaran.

“Kami tidak menuntut menu mewah. Yang kami minta sederhana: makanan bersih, segar, dan aman untuk anak-anak,” pungkas wali murid.(Za/Di)

Penulis : Za

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bappeda Sumenep Alihkan Pembiayaan PBI-JK 665.979 Jiwa ke APBN, Anggaran Daerah Dialihkan untuk Perkuat Layanan Kesehatan
Bawang Rubaru Naik Kelas, Bupati Sumenep Raih Apresiasi Kementan atas Keberhasilan UPLAND
Pemkab Sumenep Buka Dasar Hitung Dana Cadangan Pilkada 2029 Rp75 Miliar, Wabup: Fiskal Jangan Sampai Tergerus
129 Kepala Sekolah Dilantik, Wabup Sumenep Ingatkan Teknologi Tak Boleh Mengikis Karakter
Khofifah Bawa 150 Drum Aspal untuk Sumenep, Wabup Imam Hasyim: Alhamdulillah, Semoga Bermanfaat untuk Masyarakat
Wabup Sumenep Dampingi Khofifah, Pantai Slopeng Disulap Jadi Pusat Layanan Warga
Sae Rassa Restaurant MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Sajikan A Taste of Home
Sae Rassa Hidupkan Malam Sumenep, Live Music dan Suki & Sushi Jadi Teman Bersantai
Berita ini 38 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 20:54 WIB

Bappeda Sumenep Alihkan Pembiayaan PBI-JK 665.979 Jiwa ke APBN, Anggaran Daerah Dialihkan untuk Perkuat Layanan Kesehatan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 20:39 WIB

Bawang Rubaru Naik Kelas, Bupati Sumenep Raih Apresiasi Kementan atas Keberhasilan UPLAND

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Pemkab Sumenep Buka Dasar Hitung Dana Cadangan Pilkada 2029 Rp75 Miliar, Wabup: Fiskal Jangan Sampai Tergerus

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:08 WIB

129 Kepala Sekolah Dilantik, Wabup Sumenep Ingatkan Teknologi Tak Boleh Mengikis Karakter

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:53 WIB

Khofifah Bawa 150 Drum Aspal untuk Sumenep, Wabup Imam Hasyim: Alhamdulillah, Semoga Bermanfaat untuk Masyarakat

Berita Terbaru