SUMENEP, Garuda Jatim — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Saronggi, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, terus menuai keluhan keras dari wali murid dan masyarakat sekitar.
Sejak awal beroperasi, kualitas menu MBG dinilai bermasalah, bahkan memicu penolakan langsung dari para siswa. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius tentang kelayakan, pengawasan, dan tanggung jawab pengelola program.
Keluhan pertama mencuat saat menu olahan nugget dibagikan pada tahap awal pelaksanaan MBG. Sejumlah siswa menolak mengonsumsi makanan tersebut karena mengeluarkan bau tidak sedap, menimbulkan kekhawatiran akan keamanan dan kualitas bahan pangan yang digunakan.
“Anak saya bilang nuggetnya bau. Akhirnya tidak dimakan sama sekali. Kalau sudah begitu, jelas kami sebagai orang tua khawatir,” ujar salah satu wali murid dengan nada cemas. Rabu (24/12/25)
Masalah tak berhenti di situ. Beberapa hari kemudian, keluhan kembali muncul ketika menu kering dibagikan. Kali ini, siswa menerima buah nanas sebagai pelengkap makanan. Namun, banyak nanas yang diterima dalam kondisi busuk, lembek, dan tidak segar.
“Kemarin nanasnya banyak yang sudah busuk. Anak-anak tidak mau makan, bahkan ada yang langsung dibuang,” ungkap wali murid lainnya.
Rentetan persoalan ini membuat wali murid secara terbuka mempertanyakan sistem pengawasan yang dijalankan oleh pengelola SPPG Saronggi.
Mereka menilai kelalaian tidak mungkin terjadi jika proses pengecekan bahan makanan dilakukan secara ketat dan bertanggung jawab.
“Kami heran, sebelum dibagikan itu apa tidak dicek dulu? Masa makanan bau dan buah busuk bisa lolos sampai ke tangan anak-anak. Pengawasannya di mana?” jelas seorang wali murid dengan nada kecewa.
Menurut para orang tua, tanggung jawab pengawasan tidak boleh berhenti di dapur produksi semata, melainkan menjadi kewajiban manajemen SPPG secara menyeluruh, mulai dari pengadaan bahan, proses pengolahan, hingga distribusi ke sekolah.
“Ini bukan sekali dua kali. Kalau berulang, berarti sistem pengawasannya memang lemah. Jangan sampai anak-anak jadi korban kelalaian,” tegasnya.
Kekecewaan wali murid pun meluas ke ruang publik digital. Pada kolom komentar salah satu unggahan pemberitaan terkait MBG Saronggi, akun abidaqilshop meluapkan kritiknya.
“Tolong dong kasih menu yang masuk akal di bajetnya… kemarin juga nanas banyak yang busuk yang diterima siswa.” paparnya.
Nada sindiran serupa juga disampaikan akun Bunda Wardah, yang membandingkan mutu menu MBG dengan masakan sederhana rumahan, namun dinilai jauh lebih layak konsumsi.
Gelombang komentar tersebut memperkuat anggapan bahwa persoalan kualitas menu MBG di Saronggi bukan insiden tunggal atau kesalahan teknis semata, melainkan keluhan kolektif yang dirasakan langsung oleh siswa dan orang tua.
Kini, masyarakat dan wali murid mendesak agar pengelola MBG segera melakukan evaluasi menyeluruh, terutama pada aspek pengawasan bahan makanan, standar kelayakan konsumsi, serta transparansi pengelolaan anggaran.
“Kami tidak menuntut menu mewah. Yang kami minta sederhana: makanan bersih, segar, dan aman untuk anak-anak,” pungkas wali murid.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











