Klaim Patuh SOP Dipertanyakan, SPPG Legung Barat Sumenep Jalan Meski Enam Sertifikat Wajib Belum Kantongi

Jumat, 23 Januari 2026 - 23:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi SPPG Legung Barat diduga bermasalah terkait SOP (Ris - garudajatim.com)

i

Foto ilustrasi SPPG Legung Barat diduga bermasalah terkait SOP (Ris - garudajatim.com)

SUMENEP, Garuda Jatim – Klaim Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Legung Barat, Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur di bawah naungan Yayasan At-Ta’awun yang menyebut operasionalnya telah berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) kini berada di bawah sorotan serius.

Pernyataan tersebut dinilai tidak hanya lemah secara administratif, tetapi juga bertentangan langsung dengan fakta di lapangan.

Berdasarkan hasil penelusuran dan rangkaian konfirmasi, diketahui bahwa hingga saat ini SPPG Legung Barat belum mengantongi enam sertifikat wajib yang menjadi prasyarat mendasar dalam penyelenggaraan layanan pemenuhan gizi.

Sertifikat-sertifikat tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan instrumen utama untuk menjamin keamanan pangan, kelayakan proses produksi, serta perlindungan kesehatan penerima manfaat, khususnya anak-anak.

Kondisi ini secara eksplisit diakui oleh Kepala SPPG Legung Barat Yayasan At-Ta’awun, Adam Ramadhan Rifa’i. Ia menyampaikan bahwa proses sertifikasi masih berjalan dan belum sepenuhnya rampung.

“Masih dalam proses, tidak langsung terbit. Saya juga baru mengantarkan sampel terkait menu yang ada di media tersebut ke Labkesda pada hari Rabu kemarin,” ujar Adam Ramadhan Rifa’i saat dikonfirmasi. Jumat (23/1/26).

Pengakuan tersebut sekaligus menegaskan bahwa SPPG Legung Barat belum memenuhi seluruh persyaratan administratif yang dipersyaratkan. Namun ironisnya, pada waktu yang hampir bersamaan, pihak SPPG justru menyampaikan klaim kepada media lain bahwa operasional mereka telah berjalan sesuai SOP.

Kontradiksi ini memunculkan pertanyaan mendasar, SOP versi siapa yang dijalankan ketika sertifikat wajib, sebagai fondasi SOP itu sendiri belum dimiliki sepenuhnya?

Ketidaksinkronan antara pengakuan langsung dan klaim publik tersebut dinilai mencederai prinsip transparansi dan akuntabilitas. Terlebih, program SPPG menyasar kelompok rentan yang menuntut standar keamanan dan pengawasan ekstra ketat.

Klaim kepatuhan SOP tanpa dukungan dokumen lengkap berpotensi menyesatkan publik dan menurunkan kepercayaan terhadap program pemenuhan gizi secara keseluruhan.

Upaya konfirmasi lanjutan terkait dokumen pendukung sertifikasi juga tidak membuahkan hasil. Alih-alih memberikan klarifikasi terbuka, pihak SPPG memilih menyampaikan narasi melalui media lain tanpa disertai bukti administratif yang dapat diverifikasi secara independen.

“Jika benar telah beroperasi sesuai SOP, maka seluruh sertifikat dan dokumen pendukung seharusnya bisa ditunjukkan secara terbuka. Fakta bahwa enam sertifikat wajib belum dimiliki menunjukkan adanya jurang antara klaim dan kondisi riil di lapangan,” ungkap salah satu sumber yang mengikuti proses konfirmasi.

Situasi ini menyatakan bahwa profesionalisme tidak cukup dibangun melalui pernyataan sepihak. Kepatuhan terhadap SOP harus dibuktikan secara konkret melalui kelengkapan dokumen dan ketaatan pada regulasi yang berlaku. Program pemenuhan gizi menyangkut keselamatan dan kesehatan anak, sehingga tidak boleh dijalankan dengan standar setengah jalan atau legitimasi yang belum utuh.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak SPPG Legung Barat belum memberikan klarifikasi resmi terkait ketiadaan enam sertifikat wajib tersebut, meskipun upaya konfirmasi telah dilakukan berulang kali.(Ris/Di)

Penulis : Ris

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Klarifikasi Kepala SDN Juluk II Sumenep atas Dugaan Gangguan Pencernaan Siswa Usai Konsumsi MBG
Dukung Inisiatif Keberlanjutan, MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan Inovasi Kuliner “Rebellious Hunger”
HDDAP Jadi Mesin Baru Pertanian Sumenep, Dari Lahan Kering Menuju Lumbung Hortikultura Modern
Harlah ke-VIII LBH Achmad Madani, Merawat Warisan Perjuangan, Menguatkan Barisan Pembela Keadilan
SPPG Karangnangka Sumenep Sabet Predikat Terbaik 
Tarik Ulur Kepentingan di Balik Tiga Raperda, DPRD Sumenep Uji Arah Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Aset
Temuan Ulat dan Rambut di Menu MBG yang Disalurkan SPPG Pakamban Laok 2 Picu Desakan Evaluasi Total
Dinsos P3A Sumenep Perkuat Peran, Satgas PPA Desa Jadi Instrumen Utama Perlindungan Perempuan dan Anak
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 21:32 WIB

Klarifikasi Kepala SDN Juluk II Sumenep atas Dugaan Gangguan Pencernaan Siswa Usai Konsumsi MBG

Jumat, 17 April 2026 - 12:28 WIB

Dukung Inisiatif Keberlanjutan, MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan Inovasi Kuliner “Rebellious Hunger”

Jumat, 17 April 2026 - 10:20 WIB

HDDAP Jadi Mesin Baru Pertanian Sumenep, Dari Lahan Kering Menuju Lumbung Hortikultura Modern

Kamis, 16 April 2026 - 18:26 WIB

Harlah ke-VIII LBH Achmad Madani, Merawat Warisan Perjuangan, Menguatkan Barisan Pembela Keadilan

Rabu, 15 April 2026 - 22:20 WIB

SPPG Karangnangka Sumenep Sabet Predikat Terbaik 

Berita Terbaru

SPPG Karangnangka, Kecamatan Rubaru, saat menerima penghargaan dari BGN ( Istimewa - garudajatim.com)

Berita

SPPG Karangnangka Sumenep Sabet Predikat Terbaik 

Rabu, 15 Apr 2026 - 22:20 WIB