SUMENEP, Garuda Jatim — Harapan menjadikan Sumenep, Jawa Timur, Job Fair sebagai pintu masuk utama pengurangan angka pengangguran tampaknya belum sepenuhnya terwujud.
Kegiatan yang digelar Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Sumenep itu baru mampu menyerap 392 tenaga kerja dari total 850 pencari kerja yang mendaftar, atau sekitar 46 persen.
Angka tersebut memunculkan catatan kritis, terutama karena masih ada perusahaan peserta job fair yang belum menyampaikan laporan hasil rekrutmen. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor penghambat optimalisasi penyerapan tenaga kerja.
Kepala Disnaker Sumenep, Heru Santoso, mengakui belum lengkapnya laporan rekrutmen dari sejumlah perusahaan, yang mayoritas berasal dari luar daerah. Padahal, laporan tersebut menjadi instrumen penting untuk mengukur efektivitas job fair secara objektif.
“Masih ada perusahaan yang belum melaporkan hasilnya ke kami, kebanyakan dari luar kota. Sudah kami hubungi dan ini akan menjadi bahan evaluasi ke depan,” ujarnya. Rabu (7/1/26)
Heru menegaskan, Disnaker tidak menutup kemungkinan mengambil langkah tegas terhadap perusahaan yang tidak kooperatif. Salah satunya dengan memasukkan mereka ke dalam daftar hitam agar tidak lagi dilibatkan dalam job fair berikutnya.
“Komitmen perusahaan itu penting. Kalau tidak mau tertib administrasi, tentu akan kami evaluasi serius,” tegasnya.
Meski serapan tenaga kerja belum menyentuh angka ideal, Heru menilai capaian tersebut masih tergolong cukup baik di tengah tantangan kesiapan tenaga kerja lokal. Ia menyoroti faktor mental dan ekspektasi sebagian pencari kerja yang dinilai belum realistis.
“Banyak peserta yang mundur setelah tahu gaji atau sistem kerja. Ada yang merasa belum siap. Pola pikir instan ini masih menjadi tantangan,” ungkapnya.
Menurut Heru, posisi Disnaker berada di tengah sebagai fasilitator antara perusahaan dan pencari kerja. Namun, ia menyebut keluhan justru kerap datang dari pihak perusahaan yang kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang benar-benar siap bekerja.
“Masih banyak yang memilih-milih pekerjaan. Padahal semua jenjang karier itu dimulai dari bawah. Yang terpenting berani memulai,” tambahnya.
Untuk mengatasi keterbatasan job fair, Disnaker Sumenep kini mendorong skema rekrutmen langsung di aula Disnaker. Pola ini dinilai lebih efektif karena proses seleksi bisa dipantau langsung, sekaligus memudahkan pendataan tenaga kerja yang terserap.
“Kami juga aktif menyebarkan informasi lowongan melalui media sosial Disnaker. Rekrutmen dilakukan di kantor kami, dan sudah banyak perusahaan yang memanfaatkan, terutama Alfamart dan Indomaret,” jelas Heru.
Sementara itu, dari sisi legislatif, anggota Komisi II DPRD Sumenep, Masdawi, menilai capaian serapan kerja di bawah 50 persen belum mencerminkan tujuan ideal penyelenggaraan job fair.
Pihaknya menekan perlunya evaluasi menyeluruh, bukan sekadar rutinitas tahunan.
“Serapan tenaga kerja seharusnya bisa lebih dari separuh pendaftar. Harus ada evaluasi mendalam dari dinas teknis agar job fair benar-benar berdampak pada penurunan angka pengangguran,” papar Masdawi.
Ia juga mendorong agar ke depan Disnaker lebih selektif menggandeng perusahaan, memastikan komitmen rekrutmen nyata, serta memperkuat pembekalan kesiapan kerja bagi pencari kerja lokal.
“Dengan demikian, job fair tidak hanya menjadi ajang temu pencari kerja dan perusahaan, tetapi benar-benar berfungsi sebagai solusi strategis bagi problem ketenagakerjaan di Kabupaten Sumenep,” tutupnya.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











