Holik Klaim Sekadar Fasilitator, Pernyataan Politisi Gerindra Sumenep Soal SPPG Rubaru Dinilai Cuci Tangan

Jumat, 23 Januari 2026 - 13:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi pernyataan anggota DPRD Kabupaten Sumenep, Fraksi Gerindra, Holik, dinilai cuci tangan terkait polemik Satuan SPPG Rubaru (Ris - garudajatim.com)

i

Foto ilustrasi pernyataan anggota DPRD Kabupaten Sumenep, Fraksi Gerindra, Holik, dinilai cuci tangan terkait polemik Satuan SPPG Rubaru (Ris - garudajatim.com)

SUMENEP, Garuda Jatim — Pernyataan anggota DPRD Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Fraksi Gerindra, Holik, terkait polemik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Rubaru milik Yayasan Rumah Juang Garuda Emas memantik kritik publik.

Alih-alih memberi kejelasan, sikap Holik justru dinilai sebagai upaya menjauhkan diri dari tanggung jawab moral dan politik, meski sebelumnya mengakui terlibat aktif dalam proses fasilitasi sertifikasi dapur.

Dalam keterangannya, Holik menegaskan bahwa persoalan yang dikonfirmasi kepadanya hanya sebatas sertifikat, bukan investasi maupun pengelolaan dapur. Ia menyebut Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) telah dimiliki, sementara sertifikat halal dan HACCP masih dalam proses secara kolektif di Kabupaten Sumenep.

“Yang rata-rata baru selesai itu SLHS. Saya tidak tahu mekanismenya menggunakan suket atau tidak. Yang menjadi prioritas itu SLHS,” ujar Holik. Jumat (23/1/26).

Namun, pernyataan tersebut dinilai problematik. Holik secara terbuka mengakui perannya memfasilitasi pendaftaran sertifikasi bagi sejumlah dapur SPPG hampir di seluruh wilayah Sumenep. Ironisnya, ia mengaku tidak mengetahui perkembangan lanjutan setelah proses pendaftaran dilakukan.

“Saya memfasilitasi banyak teman hampir di seluruh Sumenep. Setelah itu saya tidak tahu,” katanya.

Pengakuan ini memunculkan kontradiksi serius. Fasilitasi yang diakui Holik terkesan direduksi hanya sebatas membantu pendaftaran administratif, tanpa diikuti tanggung jawab pengawalan, pendampingan, maupun pengawasan, padahal persoalan yang kini mencuat berkaitan langsung dengan legalitas, kelayakan operasional, dan standar keamanan pangan.

Lebih lanjut, Holik menyatakan bahwa seluruh dapur SPPG di Sumenep masih berstatus on proses, terkait sertifikasi. Pernyataan ini justru memperkuat kekhawatiran publik, mengingat dapur-dapur tersebut sudah beroperasi dan melayani konsumsi masyarakat.

Namun, alih-alih memberikan penjelasan komprehensif, Holik meminta agar pemberitaan dibuat seimbang dan menyebut bahwa informasi yang diterimanya hanya berasal dari karyawan dapur.

Ia mengatakan, akan berkoordinasi jika ditemukan kesalahan, selama kesalahan tersebut tidak bersifat fatal. Pernyataan ini dinilai ambigu, karena tidak menjelaskan batasan fatal yang dimaksud, sementara menyangkut konsumsi dan kesehatan publik.

Di akhir keterangannya, Holik kembali menekankan bahwa pihak mitra telah melakukan serah terima pengelolaan kepada kepala dapur pasca launching. Sejak saat itu, menurutnya, tidak ada lagi ruang bagi pihak luar untuk melakukan intervensi.

“Kami tidak bisa mengintervensi pengelolaan dapur itu,” imbuhnya.

Sikap tersebut menuai kritik keras. Publik mempertanyakan logika pernyataan seorang anggota DPRD yang mengakui terlibat dalam proses fasilitasi, namun kemudian menegaskan tidak memiliki keterkaitan dan kewenangan ketika persoalan muncul. Posisi ini dinilai lebih menyerupai upaya lepas tangan, bukan sikap negarawan yang bertanggung jawab.

Kasus SPPG Rubaru akhirnya menjadi potret buram tata kelola dapur SPPG di Kabupaten Sumenep. Persoalan sertifikasi yang belum tuntas, minimnya transparansi, serta pernyataan pejabat publik yang saling membatasi peran, memperlihatkan adanya kekosongan akuntabilitas dalam program yang menyangkut hajat hidup dan kesehatan masyarakat.(Ris/Di)

Penulis : Ris

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DKPP Sumenep Pasang ‘Sabuk Pengaman’ Program Pertanian 2026, APH hingga Petani Bersatu Kawal Anggaran dan Hasil
Jelang Panen, TIHT 2026 Sumenep Masih Digodok
KPRI RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Raih Predikat Koperasi Sehat dengan Nilai 88,3
Peringati Harkopnas ke-79, Diskop UKM Perindag Sumenep Dorong KDKMP Menjadi Mesin Baru Ekonomi Rakyat
DKPP Sumenep Siapkan Alsintan Rp1,9 Miliar, Petani Bersiap Tinggalkan Cara Lama
Bupati Sumenep dan Kadisdik Sidak Hari Pertama MPLS
Fauzi Wongsojudo Lantik 25 Pejabat Administrator, Kirim Sinyal Percepatan Reformasi Birokrasi hingga Pelayanan Desa
Tak Lagi Sekadar Simpan Pinjam, DKUPP Sumenep Siapkan Koperasi Jadi ‘Mesin Baru’ Penggerak Ekonomi Desa
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 20:21 WIB

DKPP Sumenep Pasang ‘Sabuk Pengaman’ Program Pertanian 2026, APH hingga Petani Bersatu Kawal Anggaran dan Hasil

Jumat, 17 Juli 2026 - 20:01 WIB

Jelang Panen, TIHT 2026 Sumenep Masih Digodok

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:41 WIB

KPRI RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Raih Predikat Koperasi Sehat dengan Nilai 88,3

Jumat, 17 Juli 2026 - 08:06 WIB

Peringati Harkopnas ke-79, Diskop UKM Perindag Sumenep Dorong KDKMP Menjadi Mesin Baru Ekonomi Rakyat

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:12 WIB

DKPP Sumenep Siapkan Alsintan Rp1,9 Miliar, Petani Bersiap Tinggalkan Cara Lama

Berita Terbaru

Foto petani tembakau saat panen (Za - garudajatim.com)

Berita

Jelang Panen, TIHT 2026 Sumenep Masih Digodok

Jumat, 17 Jul 2026 - 20:01 WIB