BANGKALAN, Garuda Jatim – Pantai Pasir Putih Tlangoh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, perlahan menulis ulang takdirnya. Kawasan pesisir yang dulu terancam hilang akibat abrasi dan tumpukan sampah, kini justru tumbuh sebagai contoh nyata transformasi lingkungan yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga.
Perubahan itu bermula dari langkah sunyi namun konsisten PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) melalui penanaman hexa reef di perairan Tlangoh.
Program ini bukan proyek sesaat. Sejak hexa reef pertama ditanam pada 2023, PHE WMO telah menanam 390 ton struktur terumbu buatan di bawah laut.
Hasilnya mulai terlihat nyata. Studi tahun 2025 menunjukkan terbentuknya sedimentasi alami atau akresi di pesisir Pantai Pasir Putih Tlangoh. Dalam rentang analisis data 2016–2025, segmen pantai 280–300 mencatat tren akresi hingga lima meter, menandai berkurangnya laju abrasi yang selama ini menggerus daratan.
Padahal, ancaman yang dihadapi desa pesisir ini tidak kecil. Kerja sama PHE WMO dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada 2022 mengungkap abrasi di Tlangoh mencapai tujuh meter per tahun, dipicu arus ombak kuat dan aktivitas penambangan pasir ilegal.
“Berdasarkan studi tersebut, abrasi yang terjadi mencapai tujuh meter per tahun,” ujar Sigit Dwi Aryono, Senior Manager Regional Indonesia Timur. Jumat (26/12/25)
Masalah lingkungan tak berhenti di situ. Di saat yang sama, kawasan pesisir Desa Tlangoh juga dibebani timbunan sampah hingga 1.488 meter kubik per hari.
Kombinasi abrasi dan sampah membuat desa ini kehilangan daya tarik wisata, sekaligus memutus peluang ekonomi warga.
Menjawab situasi tersebut, PHE WMO menjalankan pendekatan One Belt One Road (OBOR), sebuah strategi sinergi pembangunan pesisir utara Bangkalan yang menempatkan lingkungan sebagai fondasi perubahan.
“Konsep ini menekankan empat dimensi utama, yakni lingkungan, pendidikan, ekonomi, dan sosial,” beber Sigit.
Hexa reef, lanjut dia, menjadi tulang punggung inovasi tersebut. Berbentuk segi enam dan ditanam di dasar laut, struktur ini bekerja menahan arus bawah laut, mencegah pasir terseret ombak, berbeda dengan pemecah gelombang konvensional yang dipasang di bibir pantai.
Menurutnya, namun manfaatnya melampaui fungsi teknis. Dalam waktu relatif singkat, hexa reef berkembang menjadi habitat baru bagi ekosistem laut. Seluruh permukaannya telah ditumbuhi biota sesil, menandakan proses alami pembentukan terumbu berjalan dengan baik.
Hasil monitoring ekologi mencatat 20 spesies ikan karang telah menghuni kawasan ini, terdiri dari 13 spesies ikan major dan tujuh spesies ikan target, dengan tingkat kelimpahan masing-masing 72,897 persen dan 27,103 persen. Kondisi ini memudahkan nelayan lokal mencari ikan tanpa harus melaut jauh.
“Keindahan bawah laut Tlangoh pun mulai memikat wisatawan. Karang lembaran (coral foliose) mendominasi dengan tutupan 10,44 persen, disusul karang massif (coral massive) sebesar 7,87 persen. Hingga kini, seluruh hexa reef tetap dalam kondisi utuh, tanpa retak maupun pecah,” imbuhnya.
Keberhasilan program ini juga ditopang kepemimpinan Kepala Desa Tlangoh, Kudrotul Hidayat, yang aktif membangun kesadaran lingkungan warganya.
Ia membentuk Kelompok Masyarakat Sadar Wisata (Pokdarwis) Tlangoh untuk mengelola pengembangan wisata pesisir secara terintegrasi.
“Berkat adanya hexa reef, rantai nilai program tercipta. Pokdarwis bekerja sama dengan nelayan dan pelaku UMKM,” tegas Kudrot.
Pihaknya menyatakan, sekitar 40 UMKM kini tumbuh di kawasan wisata Pantai Pasir Putih Tlangoh, mulai dari kuliner, oleh-oleh, jasa, hingga pengelolaan parkir. Bahkan, peluang ekonomi ini membuat sejumlah mantan pekerja migran Indonesia memilih pulang dan menetap, membangun usaha di kampung halaman.
Tujuh anggota Pokdarwis Tlangoh tercatat merupakan mantan pekerja migran. Pariwisata pesisir kini menjadi sumber penghidupan baru yang berkelanjutan.
“Tanpa dukungan masyarakat, program ini tidak akan berhasil. Buat kami, mereka adalah hero tanpa jubah dan topeng dari Tlangoh,” tukas General Manager Zona 11, Zulfikar Akbar.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











