Camat Lenteng Dinilai Ciut, Dugaan Penyimpangan Desa Meddelan Menggantung Tanpa Sikap

Minggu, 8 Februari 2026 - 07:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP, Garuda Jatim – Gelombang dugaan penyimpangan di Pemerintah Desa Meddelan, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kian menguat dan menjadi perbincangan luas publik.

Namun di tengah sorotan tersebut, Camat Lenteng Supardi justru dinilai tak kunjung mengambil langkah konkret sebagai pejabat yang memiliki kewenangan pembinaan dan pengawasan terhadap desa.

Alih-alih tampil menenangkan situasi dan memastikan roda pemerintahan desa berjalan sesuai aturan, sikap camat terkesan pasif. Padahal, sejumlah dugaan persoalan yang mencuat di Desa Meddelan bukan isu ringan dan berpotensi menyeret konsekuensi hukum serius.

Kondisi ini menuai kritik keras dari praktisi hukum Pathor Rahman. Ia menegaskan, ketika muncul dugaan penyimpangan dalam pengelolaan pemerintahan desa terlebih yang mengarah pada indikasi korupsi camat wajib memanggil kepala desa untuk melakukan klarifikasi dan pembinaan.

“Kalau camat diam, itu bukan netral, tapi abai. Kenapa Kepala Desa Meddelan belum juga dipanggil? Jangan sampai Camat Lenteng justru terlihat ciut menghadapi persoalan,” tegas Pathor. Minggu (8/2/26)

Menurutnya, pembinaan dan pengawasan desa merupakan kewajiban melekat pada jabatan camat, bukan pilihan. Ketika kewenangan tersebut tidak dijalankan, maka camat patut diduga melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam perspektif hukum administrasi negara, lanjut Pathor, pembiaran terhadap dugaan penyimpangan dapat dikategorikan sebagai bentuk penyalahgunaan kewenangan (abuse of power). Ia menyoroti Pasal 115 huruf b Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang secara eksplisit mewajibkan camat melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa.

“Jika kewajiban itu tidak dijalankan, maka camat dapat dinilai lalai dalam menjalankan tugas jabatan. Ini bukan lagi soal etika, tapi soal kepatuhan hukum,” ujar pria yang akrab disapa Paong itu.

Tak berhenti di situ, mantan aktivis Malang Corruption Watch (MCW) tersebut juga menilai Camat Lenteng berpotensi mengabaikan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Tugas Camat. Regulasi tersebut menegaskan peran camat sebagai ujung tombak pemerintah daerah dalam mengawasi desa.

Ironisnya, sederet dugaan kasus di Desa Meddelan justru terus bergulir tanpa kejelasan sikap dari kecamatan. Mulai dari dugaan penyimpangan proyek pengadaan kambing melalui BUMDes, pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT), proyek pengaspalan jalan, hingga bantuan handtraktor untuk kelompok tani.

“Rentetan dugaan ini sudah cukup untuk membuat camat turun tangan. Kalau dibiarkan, dampaknya bukan hanya ke desa, tapi juga mencoreng nama Pemkab Sumenep di era kepemimpinan Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo dan Wakil Bupati KH Imam Hasyim,” papar Pathor.

Ia menambahkan, posisi camat sebagai kepanjangan tangan bupati di tingkat kecamatan seharusnya menjadi alarm moral dan hukum untuk bersikap tegas. Hal itu juga ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan, yang memberi kewenangan kepada camat untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan desa.

“Artinya, tidak ada alasan hukum bagi camat untuk bersikap pasif,” imbuhnya.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, Camat Lenteng Supardi belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media berulang kali tidak mendapat respons, baik secara langsung maupun melalui saluran komunikasi resmi.

Sikap bungkam tersebut justru menambah daftar pertanyaan publik. Apakah Camat Lenteng tidak memahami tugas dan kewajibannya sebagai pejabat publik? Ataukah pengawasan terhadap Desa Meddelan sengaja dibiarkan tanpa sikap?(Za/Di)

Penulis : Za

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI
Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme
Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal
Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival
Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026
PKKMB UPI Sumenep Tantang 530 Maba Jadi Generasi Pencipta Karya
Lakpesdam dan LPBH NU Desak THM Bermasalah Ditutup Permanen, Kapolresta Sumenep: Jika Terbukti Melanggar, Tindak Tegas
Karapan Sapi Sumenep 2026 Siap Dimulai, Delapan Korwil Berebut Tiket ke Piala Presiden
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:45 WIB

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 14:10 WIB

Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme

Jumat, 28 Agustus 2026 - 18:27 WIB

Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:48 WIB

Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026

Berita Terbaru