SUMENEP, Garuda Jatim – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mulai merealisasikan program pengadaan seragam gratis bagi siswa kelas II jenjang SD dan MI.
Sebanyak 16.952 set seragam mulai didistribusikan secara bertahap sejak Selasa, 6 Januari 2026, menyusul kembali aktifnya kegiatan belajar mengajar pasca libur semester.
Distribusi perdana dipusatkan di Kecamatan Batuan dan Kecamatan Kota Sumenep, dengan sistem satu titik pengambilan per kecamatan.
Skema ini diklaim untuk memudahkan pengawasan sekaligus mencegah potensi ketidaksesuaian jumlah seragam dengan data penerima.
Namun di balik seremoni distribusi awal tahun ini, publik mulai menyoroti sejumlah aspek krusial tentang efektivitas distribusi, keterbatasan petugas, hingga transparansi realisasi anggaran yang mencapai miliaran rupiah.
Kepala Bidang SD Disdik Sumenep, Ardiansyah Ali Sochibi, mengakui bahwa penyaluran dilakukan secara manual dengan sumber daya yang sangat terbatas.
“Setiap kepala sekolah menerima langsung seragam di lokasi distribusi, kemudian dihitung bersama sesuai data siswa yang sebelumnya diajukan,” ujar Ardiansyah. Rabu (7/1/26).
Ia menargetkan seluruh seragam rampung terdistribusi sebelum akhir Januari 2026. Namun, fakta di lapangan menunjukkan tantangan serius hanya dua orang petugas yang menangani proses distribusi untuk puluhan kecamatan di wilayah daratan dan kepulauan Sumenep.
“Petugas kami memang terbatas. Tapi kami berupaya maksimal agar distribusi tetap selesai tepat waktu,” ucapnya.
Dari sisi anggaran, Disdik Sumenep sebelumnya mengalokasikan Rp3,5 miliar untuk pengadaan seragam SD dan MI. Namun realisasi belanja disebut hanya mencapai Rp3,4 miliar, menyisakan Rp100 juta sebagai Silpa.
Rinciannya, 9.591 siswa SD menelan anggaran sekitar Rp1,9 miliar, sementara 7.361 siswa MI membutuhkan dana Rp1,5 miliar. Biaya tersebut sudah termasuk ongkos distribusi ke tiap kecamatan.
“Kami membelanjakan sesuai kebutuhan riil. Tidak ada pengadaan yang dipaksakan,” jelas Ardiansyah.
Meski demikian, transparansi pengadaan tetap menjadi perhatian publik, mengingat proyek ini dikerjakan oleh CV Awina Grup dengan masa kontrak yang berakhir pada 29 Desember 2025.
Sementara itu, Kepala Disdik Sumenep, Agus Dwi Saputra, menegaskan bahwa seluruh proses pengadaan telah rampung tepat waktu.
Ia membantah adanya keterlambatan teknis, dan menyebut libur sekolah sebagai satu-satunya alasan distribusi baru dilakukan Januari ini.
“Produksi seragam selesai sebelum kontrak berakhir. Tapi sekolah masih libur, sehingga distribusi menunggu kegiatan belajar mengajar aktif kembali,” tegasnya.
Agus menyebut, program ini sebagai bagian dari prioritas kebijakan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo, yang diklaim berorientasi pada pengurangan beban ekonomi orang tua.
“Ini bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap dunia pendidikan. Kami ingin anak-anak lebih semangat sekolah,” lanjutnya.
Namun demikian, di tengah keterbatasan petugas distribusi, besarnya nilai anggaran, serta cakupan wilayah Sumenep yang kompleks, pengawasan publik menjadi kunci agar program seragam gratis ini benar-benar sampai ke tangan siswa yang berhak, bukan berhenti pada laporan administratif semata.
Distribusi masih berjalan. Publik pun menunggu, apakah program bernilai miliaran rupiah ini akan berakhir sebagai solusi nyata bagi pendidikan dasar, atau sekadar agenda rutin yang luput dari evaluasi mendalam.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











