SUMENEP, Garuda Jatim — Di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, cerita-cerita daerah kembali menemukan suara melalui final Lomba Bertutur tingkat Kabupaten Sumenep.
Enam puluh lima siswa SD/MI datang membawa cerita, tetapi hanya 12 yang akhirnya mendapatkan panggung terakhir.
Yang dipertarungkan dalam lomba ini bukan sekadar kemampuan menghafal naskah. Para siswa ditantang menghidupkan cerita melalui intonasi, ekspresi, penghayatan, serta kemampuan menyampaikan pesan moral secara runtut kepada penonton.
Dari sanalah cerita daerah tidak berhenti sebagai tulisan, tetapi berubah menjadi pertunjukan yang dekat dengan generasi muda.
Babak final tersebut merupakan puncak dari proses seleksi yang berlangsung pada 31 Agustus hingga 2 September 2026. Sebanyak 65 peserta sebelumnya mengikuti tahap penyisihan hingga akhirnya terpilih 12 finalis terbaik untuk kembali tampil di hadapan penonton.
Mengusung tema “Menuturkan Cerita, Merawat Budaya”, Lomba Bertutur tahun ini membawa pesan yang lebih luas. Ketika anak-anak semakin akrab dengan layar dan berbagai konten digital, cerita lokal diberi ruang untuk kembali hadir melalui suara, ekspresi dan keberanian mereka.
Setiap peserta membawa cerita daerah dengan karakter masing-masing. Ada yang mengandalkan ekspresi, kekuatan suara, penghayatan tokoh hingga kemampuan membangun suasana agar penonton ikut masuk ke dalam alur cerita.
Bagi Dispusip Sumenep, momentum tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertemukan budaya literasi dengan kekayaan budaya lokal.
Anak-anak tidak hanya didorong untuk membaca, tetapi juga memahami isi bacaan, mengolahnya dan mampu menceritakannya kembali.
Kepala Dispusip Kabupaten Sumenep, Rudi Yuyianto, mengatakan, lomba tersebut menjadi sarana untuk menumbuhkan keberanian sekaligus kecintaan anak terhadap budaya lokal.
“Lomba bertutur menjadi ruang bagi anak untuk mengenal budaya sekaligus melatih keberanian tampil dan menyampaikan cerita di depan masyarakat,” ujarnya. Kamis (10/9/26)
Menurut Rudi, keberhasilan kegiatan tidak semata-mata diukur dari siapa yang keluar sebagai juara. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman mengikuti lomba mampu meninggalkan kebiasaan positif bagi peserta, terutama dalam membaca, memahami cerita dan berani berkomunikasi.
Ia berharap, semangat bertutur tidak berhenti setelah babak final berakhir. Sebaliknya, kegiatan tersebut diharapkan menjadi pemantik agar budaya membaca dan literasi terus tumbuh di lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin lomba ini menjadi stimulan agar minat baca dan budaya literasi anak semakin tumbuh melalui cerita yang dekat dengan nilai budaya Kabupaten Sumenep,” tambahnya.
Dari panggung sederhana di halaman Kantor Dispusip Sumenep itu, pesan yang dibawa menjadi lebih besar dari sekadar perlombaan. Dua belas siswa tersebut menunjukkan bahwa menjaga budaya tidak selalu harus dilakukan melalui seremoni besar.
Kadang, cukup dengan satu cerita yang dituturkan dengan penuh penghayatan, sebuah warisan budaya bisa kembali didengar dan mungkin, kembali dicintai oleh generasi berikutnya.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











