SUMENEP, Garuda Jatim — Perlawanan terhadap peredaran rokok ilegal tak selalu hadir melalui operasi penindakan. Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, industri hasil tembakau legal juga dituntut menghadirkan produk yang mampu menjangkau konsumen tanpa kehilangan kualitas.
Semangat itu turut dibawa PR Gunung Payudan Madurasa, perusahaan rokok lokal yang terafiliasi dalam Kawasan Aglomerasi Pabrik Hasil Tembakau (KAPHT) Kabupaten Sumenep, dalam gelaran Madura Culture Festival (MCF) 2026.
Perusahaan yang relatif baru tersebut memanfaatkan momentum MCF 2026 sebagai ruang memperkenalkan produknya sekaligus menguji daya saing merek Den Haag di tengah dominasi sejumlah produk rokok yang lebih dahulu dikenal masyarakat.
Festival tersebut tidak hanya menjadi panggung kebudayaan dan hiburan, tetapi juga membuka ruang promosi bagi pelaku usaha lokal untuk bertemu langsung dengan masyarakat.
Direktur PR Gunung Payudan Madurasa, Deni, mengatakan pihaknya membawa pendekatan sederhana untuk memperkenalkan Den Haag kepada pengunjung. Salah satunya melalui penawaran harga yang dinilai cukup terjangkau.
“Cukup Rp6.500, pengunjung sudah dapat menikmati satu pack Sigaret Kretek Tangan,” ujar Deni. Jumat (28/8/26)
Strategi harga tersebut bukan sekadar promosi. Bagi PR Gunung Payudan Madurasa, harga menjadi salah satu faktor penting untuk memperkenalkan produk baru sekaligus membangun daya saing di pasar rokok legal.
Apalagi, industri hasil tembakau legal menghadapi tantangan serius berupa keberadaan rokok ilegal yang kerap ditawarkan dengan harga jauh lebih rendah karena tidak melalui mekanisme cukai dan ketentuan produksi sebagaimana produk legal.
Dalam konteks tersebut, Den Haag mencoba masuk melalui jalur berbeda: harga tetap bersahabat, tetapi status produk tetap legal dan kualitas menjadi bagian dari pertarungan pasar.
“Den Haag bertarung harga sekaligus kualitas dengan rokok polos,” tegas Deni.
Pernyataan itu menjadi gambaran bahwa persaingan yang dihadapi industri rokok lokal bukan hanya mengenai merek mana yang lebih populer, tetapi juga bagaimana produk legal mampu memberikan pilihan yang kompetitif kepada konsumen.
Sebagai produk yang tergolong baru, Den Haag tentu menghadapi pekerjaan besar untuk membangun pengenalan merek. Namun, kehadirannya di MCF 2026 menjadi salah satu cara untuk mendekatkan produk secara langsung kepada masyarakat.
Festival dengan arus pengunjung yang besar memberikan keuntungan tersendiri bagi pelaku usaha. Produk tidak hanya dipajang, tetapi dapat diperkenalkan melalui interaksi langsung dengan calon konsumen.
Di sisi lain, keberadaan PR Gunung Payudan Madurasa di tengah festival juga memperlihatkan bagaimana ekosistem industri hasil tembakau lokal berupaya mengambil bagian dalam geliat ekonomi daerah.
MCF 2026 sendiri menghadirkan beragam sektor yang merepresentasikan potensi Sumenep dan Madura, mulai dari kuliner, ketahanan pangan, industri, perbankan, pendidikan hingga panggung hiburan dan berbagai produk unggulan lainnya.
Bagi pelaku usaha, momentum tersebut menjadi ruang pemasaran yang relatif sederhana dan mudah diakses. Sementara bagi masyarakat, festival menjadi kesempatan untuk melihat sekaligus mengenal lebih dekat berbagai produk yang tumbuh dari daerah.
Di tengah semarak festival, Den Haag membawa misi yang lebih spesifik membangun nama sebagai produk rokok lokal baru sekaligus menunjukkan bahwa produk legal pun dapat bertarung di segmen harga yang sensitif terhadap daya beli masyarakat.
Persaingan tersebut pada akhirnya tidak hanya menentukan seberapa cepat sebuah merek baru dikenal, tetapi juga memperlihatkan sejauh mana industri hasil tembakau legal mampu menghadirkan produk yang kompetitif di tengah tantangan rokok ilegal.
MCF 2026 pun bukan sekadar menjadi panggung budaya. Bagi PR Gunung Payudan Madurasa, festival ini menjadi arena untuk menguji keberanian sebuah merek baru: masuk ke pasar, menawarkan harga, mempertaruhkan kualitas, dan merebut perhatian konsumen secara legal.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











