SUMENEP, Garuda Jatim – Dibalik angkah anggun sapi-sapi betina yang berhias gemerlap di arena GOR A. Yani Sumenep, Jawa Timur, ada cerita tentang ketekunan peternak, warisan leluhur, denyut kesenian tradisional, hingga perputaran ekonomi masyarakat.
Cerita itulah yang diangkat dalam Festival Sapi Sonok Madura 2026, agenda unggulan Calendar of Events Kabupaten Sumenep yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep bersama Paguyuban Sapi Sonok Mega Remeng.
Festival tersebut menjadi bukti bahwa budaya lokal tidak harus ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu. Di tangan komunitas dan pemerintah daerah, tradisi Sapi Sonok justru dikembangkan menjadi magnet pariwisata sekaligus ruang tumbuh bagi ekonomi kerakyatan.
Kemasan festival dibuat lebih dari sekadar kontes. Di dalamnya terdapat pertunjukan kesenian tradisional, keterlibatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga dukungan pembinaan bagi komunitas Sapi Sonok.
Sejumlah unsur Forkopimda, Polresta Sumenep, Kodim 0827 Sumenep, jajaran Disbudporapar Sumenep, serta pengurus Paguyuban Mega Remeng turut hadir menyaksikan kemeriahan festival tersebut.
Kepala Disbudporapar Sumenep, Faruk Hanafi, menyebut ada tiga pesan utama yang ingin dibawa melalui Festival Sapi Sonok Madura 2026.
Pertama, memperkuat posisi Sapi Sonok sebagai salah satu warisan budaya khas Madura. Tradisi tersebut memiliki karakter yang kuat dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Madura, khususnya Sumenep.
“Kedua, Pemkab Sumenep memberikan penghormatan tinggi kepada para pemelihara Sapi Sonok. Mereka adalah orang-orang pilihan yang berdedikasi menjaga tradisi ini agar tidak hilang ditelan zaman di Bumi Sumekar,” ujar Faruk. Kamis (13/8/26)
Para pemelihara Sapi Sonok, menurutnya, memiliki peran sentral dalam menjaga kesinambungan tradisi. Mereka bukan hanya merawat sapi, tetapi juga mempertahankan pengetahuan, keterampilan, estetika, dan nilai budaya yang menyertainya.
Pesan ketiga menyentuh sektor yang lebih luas, yakni ekonomi masyarakat.
Pemkab Sumenep secara khusus menyediakan ruang bagi puluhan pelaku UMKM untuk berjualan selama festival berlangsung. Keramaian pengunjung kemudian menjadi peluang bagi masyarakat untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk mereka.
Dengan pola tersebut, festival budaya tidak berhenti ketika pertunjukan selesai. Aktivitas ekonomi ikut bergerak selama masyarakat berkumpul di satu lokasi.
“Harapan kita, antusiasme luar biasa dari festival bisa terus menjadi magnet pariwisata yang memperkuat identitas Sumenep, baik di tingkat nasional maupun internasional, seraya memastikan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar,” kata Faruk.
Dari Langkah Sapi ke Panggung Budaya
Ada satu hal yang membuat Festival Sapi Sonok 2026 semakin memiliki karakter kuat. Pertunjukan sapi tidak dilepaskan dari kesenian tradisional yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan budaya Madura.
Kelompok kleningan, termasuk Putri Famili dari grup Paras, turut ambil bagian dalam festival. Alunan musik tradisional tersebut menghidupkan suasana sekaligus memperlihatkan bahwa Sapi Sonok mempunyai ekosistem budaya yang jauh lebih luas daripada sekadar arena perlombaan.
Pemerintah daerah juga menyerahkan bantuan dana stimulan kepada Paguyuban Mega Remeng untuk mendukung program pembinaan.
Dukungan itu menjadi penting karena pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menggelar festival. Dibutuhkan pembinaan komunitas, regenerasi pelaku, serta ruang pertunjukan yang konsisten agar tradisi tidak berhenti pada satu generasi.
Mewakili Bupati Sumenep, Staf Ahli Bupati Hasbul Wathan membuka Festival Sapi Sonok Madura 2026.
Ia memberikan penghargaan kepada para peternak, panitia, komunitas, dan masyarakat yang tetap menjaga tradisi tersebut di tengah perubahan zaman.
Menurut Wathan, Sapi Sonok tidak bisa dipersempit sebagai ajang memperlihatkan kecantikan sapi betina. Ada filosofi yang jauh lebih dalam di balik tradisi tersebut.
“Sape Sonok adalah identitas dan warisan luhur masyarakat Madura, wabilkhusus Sumenep. Di dalamnya terkandung nilai estetika, ketekunan peternak, serta wujud cinta kita pada kearifan lokal,” ungkapnya.
Pandangan tersebut menjadi penting karena keberadaan Sapi Sonok tidak hanya berbicara tentang sapi sebagai hewan ternak. Tradisi ini juga mencerminkan bagaimana masyarakat merawat, melatih, menghias, dan memperlakukan sapi sebagai bagian dari ekspresi budaya.
Di arena GOR A. Yani, filosofi itu kemudian terlihat dalam setiap gerakan. Sapi-sapi betina tampil dengan ornamen yang memikat, berjalan beriringan dengan langkah yang teratur, sementara musik tradisional mengiringi setiap penampilan.
Perpaduan tersebut menghadirkan tontonan yang sekaligus menjadi pertunjukan identitas.
Dari sapi, lahir seni. Dari seni, lahir wisata. Dari wisata, ekonomi masyarakat ikut bergerak.
“Inilah wajah Festival Sapi Sonok Madura 2026 yang ingin dibangun Sumenep, bukan sekadar mempertontonkan tradisi, tetapi menghidupkan kembali nilai budaya agar memiliki manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
“Ketika budaya mampu menjadi identitas, pariwisata sekaligus penggerak ekonomi, maka Sapi Sonok tidak hanya berjalan di arena festival. Tradisi itu ikut berjalan membawa nama Sumenep menuju panggung yang lebih luas,” tandasnya.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











