Sapi Sonok 2026: Ketika Warisan Madura Menari di Tengah Denyut Ekonomi Rakyat Sumenep

Kamis, 13 Agustus 2026 - 19:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Festival Sapi Sonok Sumenep (Istimewa - garudajatim.com)

i

Festival Sapi Sonok Sumenep (Istimewa - garudajatim.com)

SUMENEP, Garuda Jatim – Dibalik angkah anggun sapi-sapi betina yang berhias gemerlap di arena GOR A. Yani Sumenep, Jawa Timur, ada cerita tentang ketekunan peternak, warisan leluhur, denyut kesenian tradisional, hingga perputaran ekonomi masyarakat.

Cerita itulah yang diangkat dalam Festival Sapi Sonok Madura 2026, agenda unggulan Calendar of Events Kabupaten Sumenep yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep bersama Paguyuban Sapi Sonok Mega Remeng.

Festival tersebut menjadi bukti bahwa budaya lokal tidak harus ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu. Di tangan komunitas dan pemerintah daerah, tradisi Sapi Sonok justru dikembangkan menjadi magnet pariwisata sekaligus ruang tumbuh bagi ekonomi kerakyatan.

Kemasan festival dibuat lebih dari sekadar kontes. Di dalamnya terdapat pertunjukan kesenian tradisional, keterlibatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga dukungan pembinaan bagi komunitas Sapi Sonok.

Sejumlah unsur Forkopimda, Polresta Sumenep, Kodim 0827 Sumenep, jajaran Disbudporapar Sumenep, serta pengurus Paguyuban Mega Remeng turut hadir menyaksikan kemeriahan festival tersebut.

Kepala Disbudporapar Sumenep, Faruk Hanafi, menyebut ada tiga pesan utama yang ingin dibawa melalui Festival Sapi Sonok Madura 2026.

Pertama, memperkuat posisi Sapi Sonok sebagai salah satu warisan budaya khas Madura. Tradisi tersebut memiliki karakter yang kuat dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Madura, khususnya Sumenep.

“Kedua, Pemkab Sumenep memberikan penghormatan tinggi kepada para pemelihara Sapi Sonok. Mereka adalah orang-orang pilihan yang berdedikasi menjaga tradisi ini agar tidak hilang ditelan zaman di Bumi Sumekar,” ujar Faruk. Kamis (13/8/26)

Para pemelihara Sapi Sonok, menurutnya, memiliki peran sentral dalam menjaga kesinambungan tradisi. Mereka bukan hanya merawat sapi, tetapi juga mempertahankan pengetahuan, keterampilan, estetika, dan nilai budaya yang menyertainya.

Pesan ketiga menyentuh sektor yang lebih luas, yakni ekonomi masyarakat.

Pemkab Sumenep secara khusus menyediakan ruang bagi puluhan pelaku UMKM untuk berjualan selama festival berlangsung. Keramaian pengunjung kemudian menjadi peluang bagi masyarakat untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk mereka.

Dengan pola tersebut, festival budaya tidak berhenti ketika pertunjukan selesai. Aktivitas ekonomi ikut bergerak selama masyarakat berkumpul di satu lokasi.

“Harapan kita, antusiasme luar biasa dari festival bisa terus menjadi magnet pariwisata yang memperkuat identitas Sumenep, baik di tingkat nasional maupun internasional, seraya memastikan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar,” kata Faruk.

Dari Langkah Sapi ke Panggung Budaya

Ada satu hal yang membuat Festival Sapi Sonok 2026 semakin memiliki karakter kuat. Pertunjukan sapi tidak dilepaskan dari kesenian tradisional yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan budaya Madura.

Kelompok kleningan, termasuk Putri Famili dari grup Paras, turut ambil bagian dalam festival. Alunan musik tradisional tersebut menghidupkan suasana sekaligus memperlihatkan bahwa Sapi Sonok mempunyai ekosistem budaya yang jauh lebih luas daripada sekadar arena perlombaan.

Pemerintah daerah juga menyerahkan bantuan dana stimulan kepada Paguyuban Mega Remeng untuk mendukung program pembinaan.

Dukungan itu menjadi penting karena pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menggelar festival. Dibutuhkan pembinaan komunitas, regenerasi pelaku, serta ruang pertunjukan yang konsisten agar tradisi tidak berhenti pada satu generasi.

Mewakili Bupati Sumenep, Staf Ahli Bupati Hasbul Wathan membuka Festival Sapi Sonok Madura 2026.

Ia memberikan penghargaan kepada para peternak, panitia, komunitas, dan masyarakat yang tetap menjaga tradisi tersebut di tengah perubahan zaman.

Menurut Wathan, Sapi Sonok tidak bisa dipersempit sebagai ajang memperlihatkan kecantikan sapi betina. Ada filosofi yang jauh lebih dalam di balik tradisi tersebut.

“Sape Sonok adalah identitas dan warisan luhur masyarakat Madura, wabilkhusus Sumenep. Di dalamnya terkandung nilai estetika, ketekunan peternak, serta wujud cinta kita pada kearifan lokal,” ungkapnya.

Pandangan tersebut menjadi penting karena keberadaan Sapi Sonok tidak hanya berbicara tentang sapi sebagai hewan ternak. Tradisi ini juga mencerminkan bagaimana masyarakat merawat, melatih, menghias, dan memperlakukan sapi sebagai bagian dari ekspresi budaya.

Di arena GOR A. Yani, filosofi itu kemudian terlihat dalam setiap gerakan. Sapi-sapi betina tampil dengan ornamen yang memikat, berjalan beriringan dengan langkah yang teratur, sementara musik tradisional mengiringi setiap penampilan.

Perpaduan tersebut menghadirkan tontonan yang sekaligus menjadi pertunjukan identitas.

Dari sapi, lahir seni. Dari seni, lahir wisata. Dari wisata, ekonomi masyarakat ikut bergerak.

“Inilah wajah Festival Sapi Sonok Madura 2026 yang ingin dibangun Sumenep, bukan sekadar mempertontonkan tradisi, tetapi menghidupkan kembali nilai budaya agar memiliki manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

“Ketika budaya mampu menjadi identitas, pariwisata sekaligus penggerak ekonomi, maka Sapi Sonok tidak hanya berjalan di arena festival. Tradisi itu ikut berjalan membawa nama Sumenep menuju panggung yang lebih luas,” tandasnya.(Za/Di)

Penulis : Za

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bappeda Sumenep Alihkan Pembiayaan PBI-JK 665.979 Jiwa ke APBN, Anggaran Daerah Dialihkan untuk Perkuat Layanan Kesehatan
Bawang Rubaru Naik Kelas, Bupati Sumenep Raih Apresiasi Kementan atas Keberhasilan UPLAND
Pemkab Sumenep Buka Dasar Hitung Dana Cadangan Pilkada 2029 Rp75 Miliar, Wabup: Fiskal Jangan Sampai Tergerus
129 Kepala Sekolah Dilantik, Wabup Sumenep Ingatkan Teknologi Tak Boleh Mengikis Karakter
Khofifah Bawa 150 Drum Aspal untuk Sumenep, Wabup Imam Hasyim: Alhamdulillah, Semoga Bermanfaat untuk Masyarakat
Wabup Sumenep Dampingi Khofifah, Pantai Slopeng Disulap Jadi Pusat Layanan Warga
Sae Rassa Restaurant MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Sajikan A Taste of Home
Sae Rassa Hidupkan Malam Sumenep, Live Music dan Suki & Sushi Jadi Teman Bersantai
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 20:54 WIB

Bappeda Sumenep Alihkan Pembiayaan PBI-JK 665.979 Jiwa ke APBN, Anggaran Daerah Dialihkan untuk Perkuat Layanan Kesehatan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 20:39 WIB

Bawang Rubaru Naik Kelas, Bupati Sumenep Raih Apresiasi Kementan atas Keberhasilan UPLAND

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Pemkab Sumenep Buka Dasar Hitung Dana Cadangan Pilkada 2029 Rp75 Miliar, Wabup: Fiskal Jangan Sampai Tergerus

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:08 WIB

129 Kepala Sekolah Dilantik, Wabup Sumenep Ingatkan Teknologi Tak Boleh Mengikis Karakter

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:53 WIB

Khofifah Bawa 150 Drum Aspal untuk Sumenep, Wabup Imam Hasyim: Alhamdulillah, Semoga Bermanfaat untuk Masyarakat

Berita Terbaru