SUMENEP, Garuda Jatim – Guru di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, didorong menjadi penulis yang mampu merekam, mengembangkan, dan menyebarluaskan gagasan pendidikan oleh Dinas Pendidikan.
Langkah tersebut ditandai dengan pelaksanaan Pelatihan Menulis Karya Ilmiah bagi Guru SD dan SMP yang digelar Dewan Pendidikan dan Kebudayaan Sumenep (DPKS) di Gedung Ki Hajar Dewantara.
Kegiatan yang mengangkat tema Pendidikan Digital, Pendidikan Bahasa Madura, dan Pendidikan Ramah Anak itu menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem literasi yang lebih kuat di lingkungan pendidikan.
Puluhan guru dari berbagai kecamatan hadir dalam kegiatan yang dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, H. Mohamad Iksan. Mereka tidak hanya dibekali teknik menulis karya ilmiah, tetapi juga diajak mengubah pengalaman mengajar menjadi sumber pengetahuan yang dapat dimanfaatkan lebih luas.
Di tengah rendahnya tingkat literasi yang masih menjadi tantangan nasional, guru dinilai memiliki posisi strategis sebagai penggerak perubahan. Karena itu, kemampuan menulis tidak lagi dipandang sebagai kompetensi tambahan, melainkan bagian penting dari profesionalisme pendidik.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, H. Mohamad Iksan, menegaskan bahwa setiap guru sejatinya memiliki banyak cerita sukses, inovasi pembelajaran, hingga pengalaman berharga yang layak diabadikan dalam bentuk karya ilmiah.
“Banyak praktik baik yang lahir di sekolah tetapi hanya berhenti di ruang kelas. Melalui karya ilmiah, pengalaman tersebut bisa menjadi inspirasi, referensi, bahkan solusi bagi guru-guru lainnya,” ujarnya. Selasa (2/6/26)
Menurut Iksan, menulis merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan. Ketika guru mampu mendokumentasikan gagasan dan inovasinya, maka akan lahir budaya berbagi pengetahuan yang berdampak luas terhadap mutu pembelajaran.
Ia mengapresiasi langkah DPKS yang terus menghadirkan ruang pengembangan kompetensi bagi tenaga pendidik di Kabupaten Sumenep.
“Kegiatan ini bukan hanya tentang menulis, tetapi tentang membangun budaya berpikir kritis, budaya membaca, dan budaya menghasilkan karya. Inilah modal penting untuk menciptakan pendidikan yang maju dan berdaya saing,” tegasnya.
Pelatihan tersebut sekaligus menjadi momentum memperkuat identitas pendidikan lokal. Melalui tema Pendidikan Bahasa Madura, para guru diajak berperan aktif menjaga keberlangsungan bahasa daerah di tengah derasnya pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi digital.
Sementara itu, tema Pendidikan Ramah Anak menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan menghargai tumbuh kembang peserta didik. Sedangkan Pendidikan Digital menjadi jawaban atas kebutuhan dunia pendidikan yang terus bergerak menuju era teknologi dan kecerdasan buatan.
Iksan berharap kegiatan ini melahirkan lebih banyak guru penulis yang tidak hanya aktif mengajar, tetapi juga produktif menghasilkan karya ilmiah berkualitas. Sebab, satu tulisan yang lahir dari ruang kelas dapat melampaui batas ruang dan waktu, menginspirasi banyak orang, serta menjadi warisan intelektual bagi generasi mendatang.
“Dari Sumenep, semangat itu kini mulai ditanamkan. Bahwa guru bukan hanya pencetak generasi unggul, tetapi juga pencatat sejarah perubahan pendidikan melalui kekuatan tulisan,” tukasnya.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











