Genjot Deteksi Dini, Dinkes P2KB Sumenep Percepat Evaluasi PTM 2026 dan Dorong Inovasi Skrining Jemput Bola

Rabu, 22 April 2026 - 13:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto bersama Dinkes P2KB Sumenep, saat menggelar Evaluasi Program PTM (Za - garudajatim.com)

i

Foto bersama Dinkes P2KB Sumenep, saat menggelar Evaluasi Program PTM (Za - garudajatim.com)

SUMENEP, Garuda Jatim — Upaya pengendalian penyakit tidak menular (PTM) terus diperkuat secara sistematis. Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep, Jawa Timur, menggelar Evaluasi Program PTM Tahun 2026 lebih awal dari agenda tahunan, sebagai langkah percepatan dalam menjawab tantangan deteksi dini yang masih menjadi pekerjaan besar layanan kesehatan daerah.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel D’Bagraf Sumenep tersebut diikuti 62 peserta, terdiri dari 31 kepala puskesmas dan 31 penanggung jawab program PTM.

Seluruh puskesmas, baik di wilayah daratan maupun kepulauan termasuk hasil pemekaran turut dilibatkan sebagai bagian dari penguatan layanan berbasis wilayah.

Evaluasi ini tidak sekadar menjadi forum administratif, melainkan momentum strategis untuk mengukur efektivitas program sekaligus merumuskan pendekatan baru dalam menekan angka kasus PTM. Fokus utama diarahkan pada optimalisasi deteksi dini, yang selama ini dinilai masih belum maksimal menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Sumenep, H. Achmad Syamsuri, mengatakan bahwa evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek pelaporan, implementasi program, hingga inovasi layanan di tingkat puskesmas.

“Evaluasi ini kami lakukan untuk memastikan seluruh program PTM berjalan sesuai target, bukan hanya dari sisi administrasi, tetapi juga dampaknya di masyarakat. Kita ingin layanan benar-benar dirasakan manfaatnya,” ujarnya. Rabu (22/4/26)

Menurutnya, percepatan evaluasi tahun ini juga berkaitan dengan penguatan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang mulai digencarkan sejak 2025. Program tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam mendeteksi faktor risiko PTM lebih dini, namun masih membutuhkan dorongan di tingkat implementasi.

“Kami ingin CKG ini lebih masif. Tantangan utamanya adalah bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan sejak dini, sebelum muncul gejala,” katanya.

Dalam forum evaluasi tersebut, sejumlah inovasi layanan dari puskesmas turut menjadi perhatian. Salah satu yang dinilai efektif adalah pendekatan jemput bola melalui skrining kesehatan di ruang publik, termasuk di tempat ibadah pada waktu subuh.

“Ada puskesmas yang melakukan skrining di masjid saat subuh. Ini langkah yang cerdas karena menyasar masyarakat di momen yang tepat, ketika mereka berkumpul,” tambahnya.

Layanan skrining yang diberikan meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, pengukuran indeks massa tubuh, hingga konsultasi gizi dan kesehatan lingkungan secara gratis. Pendekatan ini dinilai mampu menembus keterbatasan akses sekaligus membangun kedekatan antara tenaga kesehatan dan masyarakat.

Syamsuri menegaskan, deteksi dini merupakan kunci utama dalam pengendalian PTM. Dengan mengetahui kondisi kesehatan sejak awal, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk melakukan intervensi dan mencegah penyakit berkembang ke tahap yang lebih serius.

“Kalau diketahui lebih cepat, penanganannya juga lebih cepat. Ini penting untuk menekan risiko komplikasi yang seringkali berujung pada beban biaya kesehatan yang tinggi,” tegasnya.

Tak hanya menyasar masyarakat umum, Dinkes P2KB Sumenep juga memperluas skrining kesehatan ke kalangan tenaga kesehatan sendiri.

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk keteladanan dalam menerapkan pola hidup sehat sekaligus memastikan kesiapan SDM kesehatan dalam memberikan layanan yang optimal.

Dengan percepatan evaluasi dan dorongan inovasi berbasis lapangan, Dinkes P2KB Sumenep berharap program pengendalian PTM tidak lagi berjalan normatif, melainkan lebih adaptif, responsif, dan berdampak nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat di seluruh wilayah, termasuk daerah kepulauan yang selama ini memiliki tantangan akses tersendiri.(Za/Di)

Penulis : Za

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI
Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme
Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal
Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival
Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026
PKKMB UPI Sumenep Tantang 530 Maba Jadi Generasi Pencipta Karya
Lakpesdam dan LPBH NU Desak THM Bermasalah Ditutup Permanen, Kapolresta Sumenep: Jika Terbukti Melanggar, Tindak Tegas
Karapan Sapi Sumenep 2026 Siap Dimulai, Delapan Korwil Berebut Tiket ke Piala Presiden
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:45 WIB

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 14:10 WIB

Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme

Jumat, 28 Agustus 2026 - 18:27 WIB

Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:48 WIB

Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026

Berita Terbaru