Ojung Naik Kelas: Dari Ritual Luka Rotan ke Panggung Wisata, Pemkab Sumenep Tancap Gas Jadikan Ikon Budaya Bernilai Ekonomi

Senin, 13 April 2026 - 11:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peserta Festival Ojung Sumenep, saat foto bersama (Za - garudajatim.com)

i

Peserta Festival Ojung Sumenep, saat foto bersama (Za - garudajatim.com)

SUMENEP, Garuda Jatim — Festival Ojung 2026 kembali digelar Pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dengan kemasan yang lebih besar dan meriah.

Kegiatan berlangsung di Pantai Galung, Desa Juruan Daja, Kecamatan Batuputih, agenda tahunan ini tak hanya menyedot ribuan warga, tetapi juga memunculkan pertanyaan: sejauh mana tradisi dijaga, dan di mana batas komersialisasi dimulai?

Sejak siang, kawasan pesisir dipadati penonton. Atraksi Ojung adu ketangkasan menggunakan rotan menjadi pusat perhatian. Dua peserta saling berhadapan, bergantian melayangkan pukulan, disambut sorakan riuh yang memecah suasana. Ketegangan, keberanian, dan adrenalin berpadu dalam satu panggung terbuka.

Namun, di balik kemeriahan itu, Ojung sejatinya bukan sekadar tontonan ekstrem. Tradisi ini lahir dari praktik spiritual masyarakat Madura, yang digunakan sebagai ritual memohon hujan sekaligus bentuk doa keselamatan desa.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Sumenep, Faruq Hanafi, mengatakan bahwa pihaknya mulai menyusun langkah strategis untuk memperkuat posisi Ojung dalam ekosistem budaya dan pariwisata.

“Kami sedang mengarah pada penguatan narasi budaya, pengemasan event, hingga integrasi dengan sektor ekonomi kreatif. Ojung harus punya nilai tambah, bukan hanya atraksi musiman,” jelasnya. Senin (13/4/26)

Ekonomi Bergerak, Makna Dipertaruhkan

Festival ini terbukti mampu menggerakkan ekonomi lokal. Pedagang kaki lima, pelaku UMKM, hingga jasa parkir dan transportasi merasakan dampaknya. Pantai Galung yang biasanya relatif sepi, berubah menjadi pusat keramaian.

Namun, lanjut dia, di titik inilah muncul dilema klasik, ketika tradisi mulai dikomodifikasi, apakah nilai sakralnya masih terjaga?

“Kami tidak ingin kehilangan ruh tradisi. Modernisasi hanya pada kemasan, bukan pada nilai,” imbuhnya.

Festival Ojung kini diarahkan menjadi ikon budaya unggulan Kabupaten Sumenep. Pemerintah mulai memperkuat promosi digital, menata lokasi acara, serta melibatkan lebih banyak pelaku lokal.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep, Agus Dwi Saputra, yang juga hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa esensi daripada Ojung tidak boleh hilang di tengah upaya modernisasi festival.

“Ojung ini bukan hanya hiburan. Ini adalah tuntunan hidup yang diwariskan leluhur. Nilai kebersamaan, keberanian, dan sportivitas ada di dalamnya,” ujarnya.

Regenerasi Jadi Titik Kritis

Di tengah upaya menjadikan Ojung sebagai daya tarik wisata, persoalan regenerasi justru menjadi tantangan paling krusial. Pemerintah daerah mengakui, keterlibatan generasi muda masih belum optimal.

Agus secara terbuka mengingatkan bahwa masa depan tradisi ini berada di tangan anak muda.

“Kalau generasi muda tidak ikut ambil bagian, bukan tidak mungkin Ojung hanya tinggal cerita. Mereka harus dilibatkan, bukan sekadar jadi penonton,” paparnya.

Namun pertanyaan besarnya, apakah Ojung akan benar-benar naik kelas menjadi destinasi budaya berkelanjutan, atau hanya berhenti sebagai agenda tahunan tanpa dampak jangka panjang?

Kegiatan ini dihadiri oleh unsur Forkopimda, Forkopimka Batuputih, jajaran Disbudporapar, serta ribuan masyarakat yang antusias menyaksikan jalannya festival.

Di tengah gemuruh rotan yang beradu dan sorak penonton yang menggema, Festival Ojung 2026 menyisakan satu hal yang tak kalah penting: refleksi tentang bagaimana sebuah tradisi bertahan di antara tuntutan zaman, kepentingan ekonomi, dan tanggung jawab menjaga warisan leluhur.(Za/Di)

Penulis : Za

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI
Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme
Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal
Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival
Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026
PKKMB UPI Sumenep Tantang 530 Maba Jadi Generasi Pencipta Karya
Lakpesdam dan LPBH NU Desak THM Bermasalah Ditutup Permanen, Kapolresta Sumenep: Jika Terbukti Melanggar, Tindak Tegas
Karapan Sapi Sumenep 2026 Siap Dimulai, Delapan Korwil Berebut Tiket ke Piala Presiden
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:45 WIB

Karang Anyar Sumenep Sulap Jalan Raya Jadi Panggung Budaya di HUT ke-81 RI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 14:10 WIB

Warna-Warni Kemerdekaan di MYZE Hotel Sumenep, Anak-anak Diajak Berkarya dan Nyalakan Semangat Nasionalisme

Jumat, 28 Agustus 2026 - 18:27 WIB

Den Haag Tawarkan Harga Ramah Kantong, PR Gunung Payudan Jadikan MCF 2026 Arena Melawan Gempuran Rokok Ilegal

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Sae Rassa MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Hadirkan “Oase Rasa” di Tengah Madura Culture Festival

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:48 WIB

Dispusip Sumenep Bawa Misi Literasi ke Tengah Gemerlap Madura Night Vaganza 2026

Berita Terbaru