SUMENEP, Garuda Jatim – Polemik distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di RA Hidayatut Thalibin (RA HT), Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kian menguat dan memantik kegelisahan wali murid.
Program yang digadang-gadang sebagai solusi pemenuhan gizi anak justru diduga mengabaikan standar keamanan pangan, setelah sejumlah siswa dan guru dilaporkan mengalami diare usai mengonsumsi menu ayam bakar yang disinyalir tidak matang sempurna.
Program MBG tersebut disuplai oleh SPPG Pakamban Laok 2 dan dikelola Yayasan Bumi Asfan Abadi. Insiden ini tak hanya memicu penolakan wali murid, tetapi juga membuka kembali perdebatan soal lemahnya kontrol kualitas serta konsistensi pengawasan dalam pelaksanaan program MBG di tingkat satuan pendidikan.
Pasca mencuatnya keluhan dan pemberitaan media, pihak Yayasan Bumi Asfan Abadi mengaku langsung mengambil langkah cepat. Evaluasi dapur produksi MBG diklaim telah dilakukan, disertai janji bertanggung jawab atas insiden yang terjadi.
“Saya menyampaikan terima kasih atas perhatiannya. Begitu menerima kabar, kami langsung menggelar rapat dan melakukan evaluasi di dapur,” ujar Ketua Yayasan Bumi Asfan Abadi saat dihubungi melalui pesan WhatsApp. Rabu (11/2/26).
Tak hanya itu, yayasan juga menyebut telah mengganti menu MBG yang sebelumnya menuai penolakan dari wali murid RA HT. Pergantian menu tersebut diklaim sebagai bentuk perbaikan kualitas makanan yang disalurkan kepada siswa.
Namun, di lapangan, klaim tersebut dinilai tak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya. Sejumlah guru menyebut perbaikan menu hanya berlangsung singkat dan cenderung bersifat reaktif, muncul saat kasus ramai disorot publik.
“Ini hanya saat ramai diberitakan media. Menunya tiba-tiba jadi lebih baik. Tapi setelah situasi mereda, kembali seperti sebelumnya,” ungkap seorang guru RA HT berinisial A.
Guru tersebut juga menyoroti porsi makanan yang dinilai semakin tidak masuk akal untuk kebutuhan gizi anak usia dini. Ukuran potongan lauk disebut jauh dari ketentuan teknis MBG yang seharusnya sudah baku.
“Ayam dipotong kecil sekali, tempe juga makin kecil. Padahal setahu saya, ukuran potongan menu MBG sudah diatur. Kalau begini, di mana standar gizinya?” tambahnya.
Sorotan tak berhenti di situ. Pihak sekolah juga mempertanyakan penggunaan susu yang kembali disajikan kepada siswa. Menurut guru tersebut, jenis susu yang diberikan tidak sesuai dengan ketentuan yang diperbolehkan dalam program MBG.
“Sekarang pakai susu Cimory lagi. Padahal yang diperbolehkan hanya susu full cream. Ini menunjukkan SPPG Pakamban Laok 2 terkesan asal-asalan dan tidak konsisten,” tegasnya.
Rangkaian keluhan ini menegaskan bahwa persoalan MBG di RA Hidayatut Thalibin bukan sekadar insiden teknis, melainkan cerminan lemahnya pengawasan dan minimnya evaluasi berkelanjutan.
Wali murid berharap instansi terkait tidak hanya hadir saat masalah mencuat, tetapi benar-benar memastikan program MBG berjalan sesuai standar gizi, keamanan pangan, dan tujuan awalnya melindungi kesehatan serta masa depan anak-anak.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











