Bupati Sumenep Dorong Perlindungan Karya Buku: Wadah Harus Jelas Untuk Karya Hidup 100 Tahun ke Depan

Senin, 22 September 2025 - 13:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Sumenep, Ahmad Fauzi Wongsojudo, tersenyum saat menghadiri acara Festival Literasi (Za/garudajatim.com)

i

Bupati Sumenep, Ahmad Fauzi Wongsojudo, tersenyum saat menghadiri acara Festival Literasi (Za/garudajatim.com)

SUMENEP, Garuda Jatim — Dalam momentum gelaran Festival Literasi 2025 yang digagas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, suara konservasi budaya dalam bentuk buku dan karya cetak mendapat penegasan baru.

Bupati Sumenep, Ahmad Fauzi Wongsojudo, menyerukan upaya sistemik setiap karya cetak dan digital harus punya wadah yang jelas, perlindungan hukum, dan pencadangan digital supaya bisa ditemukan 100 tahun dari sekarang.

Seruan ini muncul selaras dengan rangkaian kegiatan Festival Literasi bertajuk Merawat Tradisi, Menggali Inspirasi Lewat Tradisi yang tengah digencarkan Dispusip untuk menghidupkan kembali budaya membaca di tengah derasnya arus digital.

Festival tersebut menghadirkan bazar ribuan judul buku dengan harga terjangkau sebagai bagian dari strategi menjaring kembali minat generasi muda terhadap buku fisik.

“Buku bukan sekadar komoditas ekonomi atau hiburan sesaat. Buku adalah arsip pengetahuan dan catatan budaya, maka dokumen kolektif yang menjadi penanda identitas daerah,” ujarnya.

Tanpa wadah yang jelas, repositori, kebijakan deposit, interoperabilitas metadata dan mekanisme perlindungan teknis-hukum, banyak karya lokal berisiko hilang, rusak, atau menghilang di tengah pergantian teknologi.

“Ada pula kebutuhan agar karya-karya itu dapat diakses lintas-generasi tanpa kehilangan konteks aslinya,” katanya.

Fauzi menyatakan, untuk mewujudkan visi buku khususnya Sumenep masih bisa ditemukan 100 tahun lagi, ada langkah konkret yang dapat dilakukan baik oleh, Dispusip, penerbit lokal, dan komunitas.

“Mendorong seluruh penerbit atau pencetak lokal dan penulis untuk mendaftarkan ISBN dan menyerahkan salinan digital melalui layanan e-Deposit Perpusnas sebagai langkah hukum dan operasional,” tegasnya.

Ie menambahkan, gunakan PDF/A untuk teks, simpan sumber asli (LaTeX, InDesign) bila tersedia buat checksum rutin replikasi data ke minimal 3 lokasi berbeda (on-site + off-site + cloud atau partner).

“Sosialisasikan dan fasilitasi pendaftaran hak cipta (mis. ke DJKI bila perlu), serta buat panduan bagi penulis tentang kontrak penerbitan yang tidak mengorbankan akses jangka panjang,” imbuhnya.

Festival Literasi bisa menjadi momen transformatif, dari sekadar menjual buku murah menjadi jaksa pengumpulan koleksi karya lokal, kapan pun penulis atau penerbit menjual di bazar, Dispusip bisa sekaligus menawarkan layanan pendaftaran, scanning atau unggah ke repositori, atau voucher e-Deposit ke Perpusnas. Labih lanjut, Fauzi menyampaikan, dengan cara itu, setiap buku yang laku terjual juga berpeluang ‘diselamatkan’ untuk generasi mendatang.

Kegiatan Dispusip yang kini gencar menanamkan budaya baca memberi kesempatan tepat untuk mensinergikan konservasi jangka panjang dengan gerakan literasi massal.

“wadah kejelasan dan perlindungan tentang pelestarian budaya tidak boleh pasif. Ia butuh kebijakan, infrastruktur, pendanaan, dan kolaborasi lintas-institusi,” tandasnya.(Za/Di)

Penulis : Za

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel garudajatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

IWO Sumenep Gelar Audensi: Desak Evaluasi Total SPPG, Satgas Akui Program Masih Bermasalah
“Bismillah Melayani” Tinggal Slogan: Setahun Bupati Fauzi–Imam, Banjir Tetap Langganan, Pembangunan Sumenep Dipertanyakan
E-Katalog Dipaksakan, IWO Sumenep Tegas Tolak Skema Publikasi 2026
Evaluasi Dijadikan Alasan, SPPG Pakamban Laok 2 Sumenep Kena Suspend
BGN Stop 17 Dapur MBG di Jatim, Kasus Makanan Tak Layak Seret SPPG Pakamban Laok 2
Lampu di Selamat Datang Padam, Wajah Sumenep Gelap di Bawah Kepemimpinan Achmad Fauzi
Ulama dan Habaib Ultimatum DPRD Sumenep, Desak Tutup Permanen Tempat Hiburan Malam
Dua Isu Besar Membayangi Kepala Diskominfo Sumenep, Indra Wahyudi Dinilai Lebih Aktif Bangun Pencitraan
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 Maret 2026 - 14:03 WIB

IWO Sumenep Gelar Audensi: Desak Evaluasi Total SPPG, Satgas Akui Program Masih Bermasalah

Senin, 2 Maret 2026 - 21:22 WIB

“Bismillah Melayani” Tinggal Slogan: Setahun Bupati Fauzi–Imam, Banjir Tetap Langganan, Pembangunan Sumenep Dipertanyakan

Senin, 2 Maret 2026 - 17:41 WIB

E-Katalog Dipaksakan, IWO Sumenep Tegas Tolak Skema Publikasi 2026

Senin, 2 Maret 2026 - 13:14 WIB

Evaluasi Dijadikan Alasan, SPPG Pakamban Laok 2 Sumenep Kena Suspend

Senin, 2 Maret 2026 - 08:55 WIB

BGN Stop 17 Dapur MBG di Jatim, Kasus Makanan Tak Layak Seret SPPG Pakamban Laok 2

Berita Terbaru