SUMENEP, Garuda Jatim — Perang melawan stunting ternyata tidak harus menunggu seorang anak lahir. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memilih bergerak lebih awal, menyasar remaja putri melalui Gerakan Bersama Minum Tablet Tambah Darah (GEBASMIA).
Gerakan ini menjadi salah satu langkah untuk membangun kesadaran bahwa anemia bukan sekadar persoalan tubuh mudah lelah. Di balik anemia pada remaja putri, terdapat persoalan kesehatan yang perlu dicegah sejak dini karena berkaitan dengan kesehatan perempuan pada masa mendatang.
GEBASMIA hadir membawa pesan sederhana tetapi penting jangan menunggu sakit untuk mulai peduli terhadap kesehatan.
Melalui kegiatan tersebut, remaja putri dan para ibu diberikan pemahaman mengenai bahaya kekurangan sel darah merah atau anemia sekaligus pentingnya menjaga kadar hemoglobin (Hb) tetap normal.
Tujuan GEBASMIA sendiri mencakup beberapa hal penting.
Pertama, Meningkatkan Kesadaran Kesehatan: Mengedukasi remaja putri dan para ibu mengenai bahaya kekurangan sel darah merah (anemia) serta pentingnya menjaga kadar hemoglobin (Hb) yang normal.
Kedua, Mendorong Konsumsi TTD (Tablet Tambah Darah): Memastikan remaja putri dan ibu hamil rutin mengonsumsi suplemen zat besi/tablet tambah darah guna memenuhi kebutuhan mikronutrien tubuh.
Ketiga, Memutus Rantai Stunting: Pencegahan anemia sejak usia remaja dan masa kehamilan sangat krusial guna melahirkan generasi yang sehat sekaligus menekan angka stunting (tengkes) pada anak di masa depan.
Keempat, Meningkatkan Produktivitas Belajar: Membantu para siswi di sekolah agar terhindar dari gejala 5L (Lemas, Letih, Lesu, Lelah, Lalai) sehingga konsentrasi belajar mereka tetap optimal.
Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep Ellya Fardasah, menegaskan perhatian terhadap anemia pada remaja putri harus menjadi gerakan bersama. Sebab, membangun kualitas generasi tidak cukup dilakukan ketika persoalan sudah muncul.
“Pencegahan harus kita mulai dari sekarang, dari usia remaja. Jangan sampai anemia dianggap sebagai hal biasa, karena kondisi kesehatan remaja putri akan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi berikutnya,” ujarnya. Selasa (15/9/26)
Menurutnya, konsumsi Tablet Tambah Darah harus dibarengi dengan edukasi yang benar. Remaja perlu mengetahui mengapa TTD penting, apa manfaatnya dan bagaimana membangun kebiasaan hidup sehat secara konsisten.
“Yang kita bangun bukan hanya kepatuhan untuk minum tablet, tetapi kesadaran. Ketika remaja sudah memiliki kesadaran menjaga kesehatan, maka kebiasaan baik itu akan terbawa sampai mereka dewasa,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi semakin penting karena anemia dapat berpengaruh terhadap aktivitas remaja sehari-hari. Gejala 5L dapat membuat tubuh tidak bugar dan pada akhirnya mengganggu konsentrasi belajar.
Di lingkungan sekolah, persoalan tersebut tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Remaja berada pada fase pertumbuhan yang membutuhkan asupan gizi dan perhatian kesehatan yang memadai.
Karena itu, GEBASMIA ditempatkan sebagai bagian dari pendekatan promotif dan preventif. Edukasi dilakukan untuk membentuk pemahaman sebelum masalah kesehatan berkembang menjadi lebih serius.
Di sisi lain, pencegahan anemia juga memiliki kaitan dengan agenda yang lebih besar, yakni penurunan stunting.
Ketika seorang remaja putri dipersiapkan menjadi perempuan yang sehat, maka secara tidak langsung sedang dipersiapkan pula calon ibu dengan kondisi kesehatan yang lebih baik.
Inilah yang membuat GEBASMIA memiliki dimensi jangka panjang. Sasaran hari ini adalah remaja putri, tetapi dampak yang diharapkan jauh melampaui usia mereka saat ini.
“Kalau kita ingin generasi ke depan tumbuh sehat, maka calon ibunya juga harus sehat. Karena itu, pencegahan anemia sejak remaja menjadi bagian dari upaya kita memutus rantai stunting,” imbuhnya.
Dinkes P2KB Sumenep juga mendorong dukungan keluarga, sekolah, guru, tenaga kesehatan dan lingkungan masyarakat. Sebab, membangun kebiasaan konsumsi TTD membutuhkan pendampingan dan penguatan secara berkelanjutan.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











