SUMENEP, Garuda Jatim — Capaian Sumenep dalam pelaksanaan proyek UPLAND (The Development of Integrated Farming System in Upland Areas) menjadi penanda bahwa pertanian dataran tinggi berbasis komoditas lokal mampu didorong menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat.
Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menerima penghargaan atas keberhasilan pelaksanaan Proyek UPLAND periode 2021–2026 dalam acara yang berlangsung di Kantor Kementan RI, Jakarta.
Apresiasi itu diberikan atas komitmen Pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dalam mengembangkan sistem pertanian dataran tinggi secara terintegrasi, dengan bawang merah varietas Rubaru sebagai salah satu komoditas unggulan yang menjadi kekuatan utama program.
Bagi Sumenep, keberhasilan UPLAND tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur pertanian. Program tersebut sekaligus menjadi upaya membangun ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir, sehingga petani tidak hanya didorong untuk meningkatkan produksi, tetapi juga diperkuat dari sisi kelembagaan, teknologi, akses pembiayaan hingga pemasaran.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kementan RI, International Fund for Agricultural Development (IFAD), Islamic Development Bank (IsDB), serta jajaran Bappeda dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep yang telah berkontribusi terhadap pelaksanaan program tersebut.
“Ini adalah pengakuan bahwa model pertanian terintegrasi di Sumenep berjalan. Dari 14 kabupaten pelaksana UPLAND, Sumenep bisa memberi contoh. Ini sejalan dengan target kita memperkuat ketahanan pangan dan nilai ekonomi petani lokal,” tegasnya. Jumat (16/10/26)
Menurutnya, penghargaan tersebut pada hakikatnya bukan semata-mata pencapaian pemerintah daerah. Lebih jauh, capaian itu merupakan bentuk pengakuan terhadap kerja keras petani yang selama ini menjadi ujung tombak pengembangan komoditas bawang merah Rubaru.
“Diakui, penghargaan ini adalah milik petani. UPLAND telah membuktikan bawang Rubaru Sumenep bisa jadi percontohan nasional. Komitmen kami adalah menjaga keberlanjutannya agar kesejahteraan petani benar-benar meningkat,” ujarnya.
Sumenep merupakan satu dari 14 kabupaten di Indonesia yang menjadi lokasi pelaksanaan UPLAND, sebuah proyek yang mendapat dukungan pendanaan dari IFAD dan Islamic Development Bank (IsDB).
Dalam pelaksanaannya, proyek tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil pertanian. UPLAND dirancang dengan pendekatan sistem pertanian terpadu yang menghubungkan kebutuhan petani sejak proses produksi hingga pascapanen.
Di Sumenep, program tersebut berpusat di Kecamatan Rubaru dan Pasongsongan. Sejumlah intervensi dilakukan, mulai pembangunan jaringan irigasi, jalan usaha tani (JUT), penerapan Good Agricultural Practices (GAP), penguatan kelembagaan petani, akses permodalan, hingga penguatan sektor pascapanen.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena persoalan pertanian tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan petani menghasilkan komoditas.
Infrastruktur produksi, kualitas budidaya, kelembagaan, pembiayaan serta kemampuan mengakses pasar turut menentukan apakah peningkatan produksi benar-benar berujung pada peningkatan pendapatan petani.
Salah satu bukti capaian program terlihat dari produktivitas bawang merah varietas Rubaru yang mencapai 16,1 ton per hektare pada panen Kelompok Tani Restu Baru, Desa Banasare, Kecamatan Rubaru, pada 2023.
Capaian tersebut memperlihatkan potensi bawang merah Rubaru untuk terus dikembangkan sebagai komoditas strategis daerah. Varietas tersebut juga dinilai memiliki ketahanan terhadap penyakit serta daya saing untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Bupati Fauzi hadir menerima apresiasi tersebut didampingi Kepala Bappeda Kabupaten Sumenep Arif Firmanto dan Kepala DKPP Sumenep Chainur Rasyid.
Keberhasilan UPLAND sekaligus menjadi momentum penting bagi Sumenep untuk memastikan program tidak berhenti ketika periode proyek 2021–2026 berakhir.
Pasalnya, tantangan berikutnya justru berada pada bagaimana pemerintah daerah bersama petani mampu menjaga infrastruktur yang telah dibangun, mempertahankan produktivitas, meningkatkan kualitas komoditas, memperluas pasar, serta memastikan nilai tambah lebih banyak dinikmati petani.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Kementan menegaskan bahwa UPLAND bukan sekadar proyek, melainkan sebuah lompatan menuju pertanian modern yang tangguh dan berkelanjutan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Penghargaan yang diterima Sumenep tersebut sekaligus menjadi penutup periode pelaksanaan UPLAND 2021–2026 yang akan segera berakhir. Namun, berakhirnya periode proyek tidak berarti berhentinya agenda pengembangan pertanian berbasis kawasan.
Sejumlah daerah pelaksana UPLAND bahkan menyatakan komitmennya untuk melanjutkan program secara mandiri karena merasakan dampaknya terhadap peningkatan pendapatan petani kecil.
Bagi Sumenep, keberlanjutan menjadi kata kunci. Sebab, keberhasilan membangun produktivitas bawang merah harus dilanjutkan dengan kemampuan menciptakan pasar, memperkuat rantai pasok, meningkatkan nilai tambah dan menjadikan petani sebagai pelaku utama dalam ekosistem agribisnis.
Capaian UPLAND dengan demikian membuka ruang lebih besar bagi bawang merah Rubaru untuk tidak hanya dikenal sebagai produk pertanian khas Sumenep, tetapi berkembang sebagai komoditas strategis agropolitan yang mampu menembus pasar lebih luas di luar Madura.
“Bagi Sumenep, capaian ini memperkuat posisi bawang merah Rubaru sebagai komoditas strategis agropolitan, seiring target peningkatan nilai ekonomi petani dan perluasan pasar di luar Madura,” pungkas Bupati Fauzi.(Za/Di)
Penulis : Za
Editor : Redaksi











